SEMANGAT

SEMANGAT

Kamis, 21 Februari 2013

Degradasi Nasionalisme Indonesia

 
Kondisi Indonesia Sekarang
Sejumlah aktivis pemuda menilai prinsip nasionalisme  dalam diri pemuda Indonesia umumnya telah mengalami degradasi lantaran terus menerus tergerus oleh nilai-nilai dari luar. Degradasi nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia muncul karena kegagalan dalam merevitalisasi (menghidupkan kembali) dan mendefinisikan pemahaman nasionalisme. Pemuda Indonesia umumnya belum sadar akan ancaman arus global yang terus menerus menggerogoti identitas bangsa. Kondisi semakin parah lantaran masih kurang maksimalnya distribusi keadilan pembangunan yang dilakukan pemerintah sehingga semakin menumbuhkan semangat etnonasionalisme yang jika dibiarkan akan mengancam eksistensi NKRI.
Degradasi nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia kondisinya semakin parah karena belum adanya pembaharuan atas pemahaman dan prinsip nasionalisme dalam diri pemuda. Kegagalan meredefinisi nilai-nilai nasionalisme telah menyebabkan hingga kini belum lahir sosok pemuda Indonesia yang dapat menjadi teladan. Akibatnya peran orang tua masih sangat mendominasi segala sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan berjalannya waktu, semangat heroik dalam janji yang terkenal dengan Sumpah Pemuda itu mengalami pergeseran arti maupun pemahamannya. Arti Sumpah Pemuda tentu berbeda dari saat perjuangan dulu. Bila dulu dijadikan sebagai alat pemersatu, maka seharusnya kini dijadikan sebagai cambuk bagi pemuda Indonesia untuk berbuat yang lebih baik demi kemajuan negara. Kenegaraan Indonesia berkembang sesuai dinamika perubahan yang amat besar terutama berkaitan dengan globalisasi dan reformasi. Dalam perubahan ini setiap komponen bangsa termasuk pemuda dituntut kontribusinya sesuai kemampuan, kompetensi, dan profesinya. Pemuda dituntut untuk mengembangkan sikap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya bangsa, sikap keteladanan dan disiplin. Di sisi lain, perlu diciptakan suasana yang lebih dinamis dan demokratis yang mendorong pemuda untuk berkiprah dalam transformasi pembangunan baik regional maupun skala global.
Runtuhnya nasionalisme tidak terlepas dari ekspansi tanpa henti dari pengaruh globalisasi. Saat ini, pemuda Indonesia seperti kehilangan akar yang kuat sebagai bagian daru elemen bangsa. Perilaku kebarat-baratan itu sudah semakin parah menjangkiti pemuda di kota. Tergerusnya akar tradisi sebagai bangsa Indonesia akibat ekspansi globalisasi bisa menjadi ancaman besar bagi eksistensi NKRI. Tantangan pemuda saat ini berbeda dengan era tahun 1928 atau 1945. Jika dulu nasionalisme pemuda diarahkan untuk melawan penjajahan, kini nasionalisme diposisikan secara proporsional dalam menyikapi kepentingan pasar yang diusung kepentingan global, dan nasionalisme yang diusung untuk kepentingan negara.
Memang, nasionalisme nasional telah berubah menjadi nasionalisme regional. Indikatornya adalah muncul berbagai konflik sosial dan politik, baik dalam bentuk konflik vertical maupun konflik horizontal di beberapa daerah. Realitas tersebut membuktikan telah terjadi penurunan nilai nasionalisme di tingkat lokal, meskipun hanya dikumandangkan oleh sebagian kecil masyarakat.
Penyebab hilangnya rasa nasionalisme
Faktor Internal
1. Pemerintahan pada zaman reformasi yang jauh dari harapan para anak, sehingga membuat mrka kecewa pada kinerja pemerintah saat ini. Terkuaknya kasus-kasus korupsi, penggelapan uang Negara, & penyalahgunaan kekuasaan oleh para pejabat Negara membuat para pemuda enggan utk memerhatikan lagi pemerintahan.
2. Sikap keluarga & lingkungan sekitar yang tidak mencerminkan rasa nasionalisme & patriotisme, sehingga para anak meniru sikap tersebut. Para anak merupakan peniru yang baik terhadap lingkungan sekitarnya.
3. Demokratisasi yang melewati batas etika & sopan santun dan maraknya unjuk rasa, telah menimbulkan frustasi di kalangan anak & hilangnya optimisme, sehingga yang ada hanya sifat malas, egois & emosional.
4. Tertinggalnya Indonesia dengan Negara-negara lain dalam segala aspek kehidupan, membuat para pemuda tidak bangga lagi menjadi bangsa Indonesia.
5. Timbulnya etnosentrisme yang menganggap sukunya lebih baik dari suku-suku lainnya, membuat anak lebih mengagungkan daerah atau sukunya daripada persatuan bangsa.
Faktor Eksternal
1. Cepatnya arus globalisasi yang berimbas pada moral pemuda. Mereka lebih memilih kebudayaan negara lain, dibandingkan dengan kebudayaanya sendiri, sbg contohnya para pemuda lbh memilih memakai pakaian minim yang mencerminkan budaya barat dibandingkan memakai batik atau baju yang sopan yang mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Para pemuda kini dikuasai oleh narkoba & minum2 keras, sehingga sgt merusak martabat bangsa Indonesia
2. Paham liberalisme yang dianut oleh Negara2 barat yang memberikan dampak pada kehidupan bangsa. Anak cenderung meniru paham libelarisme, seperti sikap individualisme yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan sekitar & sikap acuh tak acuh pada pemerintahan.

Langkah menumbuhkan Nasionalisme:
1.    Impelementasi Nasionalisme Pemuda
Mungkin kita para pemuda khususnya para mahasiswa, bingung apa yang seharusnya kita lakukan untuk menolong bangsa yang sudah bobrok ini agar kembali bermatabat, beretika, dan sejahtera layaknya cerita nenek moyang kita dulu. Mahasiswa sebagai agent of change rasanya tidak cukup, tetapi sebagai directur of change  karena mahasiswalah insan yang menjunjung tinggi idealisme yang dapat merubah bangsa ini. Merubah memang tidak mudah dan butuh pengorbanan besar dan periode yang lama sedangkan masalah sudah terlampau kompleks. Yang dapat kita lakukan adalah menerapkan nilai – nilai ideologi pancasila dan patriotisme di rutinitas sehari – sehari, berkarya untuk negeri, dan cintai produk anak bangsa. Memimpin diri untuk berubah menjadi insan yang kritis agar tetap bisa menjaga bangsa kita dari penyelewengan – penyelewengan nilai – nilai Pancasila yang katanya menjadi dasar negara kita. Semoga para pemuda khususnya pelajar/mahasiswa, bisa bertekad dan mewujudkan tujuan mulia ini di bidang masing – masing untuk bangsa ini dan untuk anak cucu kita sesuai dengan salah satu doa dan harapan orang tua kita sewaktu lahir, yaitu “menjadi anak yang berguna bagi nusa bangsa dan agama”. (Hikmatyar R.A)


2.    Merevitalisasi Kebhinekaan
Tidak bisa dipungkiri, spirit kebhinekaan dan nasionalisme kini ada pada masa genting. Banyak masyarakat, terutama pemuda, yang sudah mulai apatis terhadap sejarah bangsanya sendiri. Padahal dulu kita sering diingatkan bahwa "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya". Tapi sepertinya kini sejarah bangsa kita lebih banyak diminati bahkan diteliti oleh orang asing. Seperti Benedict Anderson yang menulis buku tentang Indonesia atau Film The Act of Killing yang menceritakan tentang sejarah PKI. Itu semua dibuat oleh bukan orang Indonesia, sementara kita menelan mentah-mentah karya mereka.
Selain itu, peran media dalam pemberitaan juga menimbulkan efek negatif terhadap melunturnya sikap nasionalisme masyarakat. Media memiliki porsi pemberitaan tentang kasus korupsi, tindak kekerasan, kriminal dan seksual yang jauh lebih besar dari pada pemberitaan tentang kearifan lokal serta cerita kepahlawanan tokoh "sunyi" ditengah masyarakat. Sehingga para guru menjadi repot dalam memberikan contoh tentang sikap pancasilais masyarakat itu sendiri. Hasilnya pelajaran tentang moral dan Pancasila hanya menjadi teori yang tertulis di dalam buku.
Untuk itu pemahaman tentang kebhinekaan perlu lebih digalakkan lagi, dimulai dari sekolah dengan memberikan motivasi tentang betapa pentingnya kebhinekaan serta motivasi dalam mencintai tanah air sebagai buah dari perjuangan para founding father serta para pahlawan yang sudah berjuang hingga gugur di medan perang.
Selain itu media juga perlu mengusung semangat nasionalisme melalui pemberitaan yang disiarkan. Bukan semata-mata memberitakan tentang betapa bobroknya negara ini. Paradigma Bad News is A Good News sudah layaknya dirubah menjadi Good News is a good news too. Sebab media juga memiliki fungsi dan peran sebagai pembentuk opini publik.
Melalui gerakan Revitalisasi Kebhinekaan, semoga dapat membangkitkan kembali semangat nasionalisme terutama untuk para pemuda sebagai ujung tombak suatu bangsa. Bayangkan saja jika pemuda tak lagi memiliki spirit nasionalisme, serta tidak menjunjung tinggi kebhinekaan. Maka lambat laun negara ini akan menjadi negara amburadul sebab tak ada lagi yang menjunjungnya sebagai tanah air dan tak ada lagi yang mencintai ibu pertiwi.

 KOMENTAR:
Untuk menumbuhkan semangat nasionalisme harus dimulai dari diri kita sendiri. Jangan mengharapkan terjadi perubahan dalam sekup luas atau besar dalam hal ini Indonesia. Jika pada kenyataannya di dalam lingkup kita ikatan sukuisme masih kuat. Menjadi tanggung jawab kita bersama bagaimana merubah nasionalisme regional menjadi nasionalisme nasional. Perlu pengimplementasian setiap hari nilai-nilai Pancasila dan juga semangat keberagaman dalam berbineka tunggal ika. Dunia kebarat-baratan sangat mendominasi di kalangan pemuda Indonesia ini berakibat akan cara pandang dan juga perubahan hidup anak muda. Tayangan media elektronik juga berpengaruh terhadap perubahan gaya hidup anak muda. Jika kita melihat sekarang tayangan mengenai nilai kearifan lokal atau budaya lokal Indonesia menjadi sangat jarang ditampilkan. Kebanyakkan adalah budaya luar negeri yang lebih diminati dan diikuti oleh anak-anak muda. Nach, ini menjadi tugas kita bersama untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme dan juga patriotisme.





SUMBER:
http://maulanusantara.wordpress.com/2010/10/14/refleksi-sumpah-pemuda-merenungi-peran-pemuda/
http://abimanyu.students-blog.undip.ac.id/2010/11/04/implementasi-nasionalisme-pemuda-untuk-ibu-pertiwi/
http://belanegarari.wordpress.com/2011/12/29/menumbuhkan-kembali-semangat-nasionalisme-pemuda-indonesia/



1 komentar: