SEMANGAT

SEMANGAT

Kamis, 21 Februari 2013

BIMBINGAN KONSELING-PEMBIMBINGAN NOUTHETIS

PEMBIMBINGAN NOUTHETIS
I.    DATA BUKU:
Judul Buku        : Anda pun Boleh Membimbing
Penulis            : Dr. Jay E. Adams
Penerbit        : Gandum Mas
Tempat  Terbit        : Malang, Jatim
Tahun Terbit        : 1986 (cetakan ketiga)
Buku Yang Dibaca    : Hal 26-40
Membaca Tanggal    : 30 Agustus 2012

II.    INTI BUKU:

PEMBIMBINGAN NOUTHETIS
A.    Konfrontasi Nouthetis oleh Seluruh Gereja
Bentuk pelayanan Nouthetis, Alkitab dengan jelas melibatkan semua orang Kristen, bukan hanya pendeta saja. (Kolose 3:16). Menurut Paulus, semua orang Kristen harus mengajar dan saling berkonfrontasi secara nouthetis (menasehati=noutheteo) dalam Roma 15:14. Jadi fakta pertama: Aktifitas nouthetis adalah kegiatan dimana seluruh kaum Allah dapat mengambil bagian.
B.    Terutama Merupakan Pekerjaan Pendeta
Meskipun semua orang Kristen harus terlibat dalam konfrontasi ini, aktivitas nouthetis terutama merupakan ciri dari pekerjaan pendeta. Aktivitas itu merupakan bagian utama dalam pelayanan Paulus (Kolose 1:28). Pemberitaan tentang Kristus ini adalah konfrontasi terhadap setiap orang secara nouthetis. Jelas bahwa konfrontasi secara massal melalui khotbah merupakan bagian dari aktivitas nouthetis Paulus, tetapi ia juga terlibat dalam konfrontasi kepada pribadi-pribadi.
C.    Tiga Unsur dari Konfrontasi Nouthetis
Arti kata Nouthetis sebenarnya sukar untuk diterjemahkan, terjemahan yang umjum adalah menasehati, memperingati, dan mengajar. Tiga unusur tersebut adalah :
1.    Kata nouthetis dipakai bertalian dengan kata “didasko” (mengajar). Didasko tidak melibatkan si-pendengar, tetapi khusus menunjukkan akan aktivitas dari pengajar. Sedangkan kata “nouthetis” menunjukkan aktivitas pembimbing serta keterlibatan orang yang sedang dibimbing. Orang tersebut harus berubah tingkah lakunya. jadi pertama-tama yang dimaksud dengan “konfrontasi nouthestis” yaitu adanya sesuatu yang salah pada orang yang sedang dikonfrontasi, ada sesuatu yang Tuhan ingin ubah. Tujuan utama dari konfrontasi nouthetis adalah mencapai perubahan watak dan tingkah laku.
2.    Unsur kedua yang terkandung dalam konsep tersebut adalah persoalannya dibereskan secara verbal. Contoh kegiatan nouthetis ini dapat kita lihat pada waktu Natan mengkonfrontasi Raja Daud tentang dosa Daud terhadap Uria dan Betsyeba. Contoh lain, pada waktu Yesus (sesudah bangkit) memulihkan Petrus kepada panggilan-Nya. Kegagalan konfrontasi nouthetisdapat dilihat dalam sikap imam Eli yang patut disesalkan (1 Samuel 3:13). Penekanan terhadap kata “mengapa” menunjukkan kegagalan Eli. Banyak waktu yang akan terbuang dengan bertanya “mengapa”. Eli akan lebih berhasil bila mengatakan “apa”.  “Apa” akan mengarah pada suatu pernyeleseaian. Jadi corak kedua dalam bimbingan nouthetis adalah konfrontasi yang bersifat pribadi, yang diarahkan kepada penyelesuaian diri orang bimbingan itu dengan Alkitab.
3.    Unsur ketiga dalam konfrontasi nouthetis adalah tujuan untuk mengubah sesuatu yang merusak hidup orang yang dibimbing. Sasaranya adalah  menghadapi suatu rintangan dan mengatasinya secra verbal, bukan untuk menghukum melainkan untuk menolong. Nouthetis ini didasari oleh kasih dan pengertian yang penuh, dimana  orang tersebut dibimbing dan diperbaiki secara verbal, demi kebaikan dia sendiri dan sudah tentu demi kemuliaan Allah. (1 Korintus 4:14; Efesus 6:4; Kolose 3:21; 1 Tesalonika 3:15).
D.    Nouthetis dan Tujuan dari Alkitab
Kata nouthetis adalah sesuai dengan segala penjelasan rasul Paulus tentang tujuan dan pemaikaian Alkitab. (2 Timotius 3:16). Di sini terdapat tujuan yang sama seperti yang Paulus nyatakan dalam Kolose 1:28. Dalam surat kolose Paulus menjelaskan perlunya melakukan konfrontasi nouthetis supaya setiap orang dapat disempurnakan dihadapan Kristus (tujuan nouthetis). Pada II Timotius, Paulus menunjukkan bahwa Alkitab berguna untuk menyempurnakan orang yaitu suatu proses nouthetis (mengajar, menegur, memperbaiki dan melatih). Dapat disimpulkan bahwa konfrontasi nouthetis haruslah merupakan konfrontasi Alkitabiah. Singkatnya konfrontasi dengan mempergunakan prinsip-prinsip dan petunjuk-petunjuk dari Alkitab.
E.    Keterlibatan Nouthetis
Dalam Kisah Rasul pasal 20, perkataan Paulus tentang penggembalaan nouthetis yang “dengan tangisan”. Ini mengungkapkan satu hal dengan jelas, bahwa Paulus melibatkan diri dengan persoalan-persoalan orang-orang yang dibimbingnya. Keterlibatan dapat berbeda bukan saja dalam segi intensitas, tetapi juga dalam jenisnya. Keterlibatan Paulus mencakup dalam kedua-duanya. (2 Korintus 11:29; 3 Yohanes ayat 4).
F.    Kasih Merupakan Sasarannya
Sasaran terakhir dari khotbah dan bimbingan adalah kemuliaan Allah. Tetapi yang mendasari kemuliaan yang indah itu adalah kasih. Definisi “kasih” yang sederhana dari Alkitab adalah “pemenuhan hukum-hukum Allah”. Kasih adalah sikap yang bertanggung jawab. Tujuan pembimbingan nouthetis dinyatakan secara jelas dalam Alkitab adalah untuk membawa manusia mengasihi hukum Allah.
G.    Bimbingan yang Berkuasa
“Pengajaran yang berkuasa” memerlukan teknik nouthetis yang mengarahkan orang yang dibimbing. Pembimbing harus berusaha mengubah kebiasaan-kebiasaan yang penuh dosa sejak pengusiran manusia dari taman Eden. Yesus sendiri tidak bersembunyi di taman Getsemani atau lari dari salib. Pembimbingan nouthetis beralaskan penebusan. Oleh karena itu kuasanya dan tanggung jawabnya yang begitu besar berdasarkan pada kuasa Allah sendiri.
H.    Kegagalan dalam Pembimbingan Nouthetis
Hal kegagalan adalah kompleks sehingga sukar dianalisa. Bilamana seorang pembimbing gagal melaksanakan pelayanannya dengan baik, mungkin ia gagal membuka beberapa faktor dalam persoalan yang dihadapi, tetapi sering sukar mengetahui sebab kegagalan dengan tepat, karena setiap persoalan adalah cukup ruwet. Membicarakan kegagalan biasanya menimbulkan diskusi tentang keberhasilan. Keberhasilan berarti mencapai perubahan hidup yang Alkitabiah dibarengi dengan pengertian dari orang itu tentang bagaimana perubahan ini telah dicapai, dan bagaimana caranya mencegah kejatuhan kedalam pola-pola dosa yang sama pada masa mendatang, dan apa yang harus dilakukan kalaupun juga tetap jatuh juga.
I.    Beberapa Sebab Kegagalan
1.    Pembimbing terlalu bersimpati
2.    Pembimbing terlalu cepat mengambil keputusan
3.    Pembimbing melibatkan emosinya, tidak dapat berpikir jernih, karena membiarkan perasaan menguasai tindakan.
4.    Pembimbing terdorong untuk memerintah dan memaksakan pendapatnya, gagal membedakan kuasa Allah dan kebijaksanaannya sendiri.



J.    Persyaratan bagi Pembimbing
1.    Memunyai pengetahuan dan kebaikan, informasi dan sikap, kebenaran dan keinginan untuk menolong orang lain. Pembimbing yang mampu membimbing (Roma 15:14-15).
2.    Pembimbing nouthetis harus mengenal Alkibat dengan sedalam-dalamnya.
3.    Pembimbing yang berhikmat (Kolose 3:16; Amsal 1:7).
K.    Penerapan dalam Bimbingan Pastoral
Seorang pendeta yang berorientasi nouthetis akan cenderung bertindak terus terang kepada semua orang yang dilayaninya. Ia akan berusaha mencari kebaikan mereka demi kemuliaan Allah.

III.    KOMENTAR:
Perlu menerapkan pembimbingan nouthetis ini, karena pembimbingan ini sangat Alkitabiah. Berbeda cara yang dilakukan pembimbingan yang dilakukan oleh pembimbing profesional sekuler dengan cara pembimbingan nouthetis. Pembimbing Sekuler akan beranggapan jangan terlalu terlibat dengan orang-orang yang dibimbingnya. Kalau perlu orang yang dibimbing harus bersifat terbuka, tetapi pembimbing tidak boleh sampai diketahui pribadinya. Perlu belajar dari cara Paulus ketika dia melakukan pembimbingan yaitu dengan cara melibatkan diri dengan penuh perhatian kepada orang-orang yang dibimbingnya.
Dalam pembimbingan nouthetis perlu menggunakan hikmat Ilahi jadi pembimbing tidak bisa berdasarkan oleh pengertian atau kebijaksanaanya sendiri. Diperlukan kerelaan hati dan kesabaran untuk mendengar, sehingga pembimbing tidak cepat untuk mengambil keputusan yang bisa mengakibatkan kegagalan.
Penulis perlu berlajar banyak tentang pembimbingan nouthetis ini, sebab pembimbingan ini akan sangat menolong penulis untuk melakukan proses mentoring ketika melalukan konseling dengan mentee pondokan. Yang terpenting adalah mau menyediakan telinga untuk mau mendengarkan permasalahan yang dihadapadi oleh mentee dan keptusan yang diambil harus berdasarkan kebenaran Ilahi yaitu Firman Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar