SEMANGAT

SEMANGAT

Kamis, 21 Februari 2013

BIMBINGAN KONSELING-PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

I.    DATA BUKU:
Judul Buku        : Psikologi Untuk Membimbing
Penulis            : Dra. Ny. Y. Singgih D. Gunarsa
              Dr. Singgih D. Gunarsa
Penerbit        : PT. BPK Gunung Mulia
Tempat  Terbit    : Jakarta Pusat
Tahun Terbit        : 1982 (Cetakan ketiga)
Buku Yang Dibaca    : Hal 86-101, 127-135
Membaca Tanggal    : 04 September 2012

II.    INTI BUKU:
BAB VII PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Kepribadian adalah kebutuhan-kebutuhan dan kebiasaan-kebiasaan dalam cara memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut, dapat dilihat oleh orang lain. Kepribadian sering digambarkan sebagai pola keseluruhan tingkahlaku seseorang pada setiap tahap perkembangannya. Keribadian dapat dikatakan mencakup semua aspek perkembangan, seperti perkembanagan fisik, motorik, mental, sosial, moral, akan tetapi melebihi penjumlahan semua aspek-aspek perkembanagn tersebut. Kepribadian menyebabkan adanya kesatuan dalam tingkahlaku dan tindakan seseorang. Ini disebut dengan integrasi, integrasi dari pola-pola kepribadian yang dibentuk oleh seseorang.
Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kepribadian dapat dibagi dalam 2 kelompok yaitu:
A.    Faktor-faktor yang terdapat dalam diri anak sendiri, antara lain:
1.    Faktor-faktor berhubungan dengan konstitusi tubuh.
Seperti: keadaan fisik anak, keadaan fisiologis, ketangkasan motorik, keadaan mental dan emosionalitas seseorang mempengaruhi sifat-sifat dan tingkahlakunya.
2.    Struktur tubuh dan keadaan fisik
3.    Koordinasi motorik
Anak yang lebih lemah dari rata-rata dan yang koordinasi motoriknya kurang dari rata-rata, akan bersifat malu, takut atau mengalami frustrasi.
4.    Kemampuan mental dan bakat khusus, seperti:
     Intelegensi yang tinggi
     Hambatan mental
     Bakat khusus
5.    Emosionalitas
Reaksi emosionalitas erat bertalian dengan pola kelakuan lainnya yang sedang berkembang. Interaksi, hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungannya, dipengaruhi oleh sifat emosionalnya.
B.    Pengaruh dari Lingkungan
1.    Rumah, rumah adalah lingkungan pertama yang berperan dalam pembentukan kepribadian. Sifat-sifat kepribadian di rumah yang dapat diterima, yaitu:
a.    Kesediaan orangtua menerima anak sebagai anggota keluarga yang berharga
b.    Pertengkaran dan perselisihan paham antar orantua supaya tidak terjadi dihadapan anak
c.    Adanya sikap demokratis yang memungkinkan setiap anggota keluarga mengikuti arah minatnya sendiri, sejauh tidak merugikan atau merintangi kesejahteraan orang lain, baik dalam lingkungan keluarga maupun di luar lingkungan keluarga
d.    Penyesuaian yang baik antara ayah dan ibu dalam pernikahan
e.    Keadaan ekonomis yang serasi
f.    Penerimaam (akseptasi) sosial para tetangga terhadap keluarga
2.    Sekolah, pengaruh sekolah dalam perkembangan kepribadian anak dapat dibagi dalam 3 kelompok yaitu:
a.     Kurikulum dan anak
     Kurikulum harus disesuaikan dengan keadaan perkembangan belajar anak
     Kurikulum harus mencakup ketrampilan, pengetahuan, sikap-sikap yang perlu dibentuk oleh anak dalam pengalamannya sekarang dan sesuai utnuk memenuhi kebutuhan pendidikan di kemudian hari
     Anak harus dibiasakan belajar dengan aktivitas sendiri dan bukan secara pasif mengharapkan “hasil kunyahan “ dari guru
     Perlu diusahakan supaya apa yang dipelajari oleh anak disesuaikan dengan minat dan keinginan anak, dan bukan semata-mata berdasarkan harapan dan cita-cita orangtua terhadap anak
b.    Hubungan guru dan murid
Melihat pentingnya peranan guru dalam perkembangan aspek intelek dan kepribadian anak, maka guru perlu menyadari kedudukan dan sikap-sikap maupun kepribadiannya. Lebih-lebih jika guru dianggap, dipilih sebagai tokoh identifikasi anak tersebut.
c.    Hubungan antar anak
Baik di sekolah maupun di luar sekolah kepribadian anak banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebayanya. Cara-cara yang memberikan keberhasilan dalam persaingan dalam hubungan dengan teman sekolah akan dipakainya dalam kompetisi.
C.    Pengaruh faktor-faktor lain
1.    Kebudayaan
2.    Nama panggilan di rumah
3.    Minat dan hobi
Model Transaksional







BAB X KEPRIBADIAN DAN PENYESUAIAN
Mekanisme pertahanan yang dipakai oleh seorang anak maupun orang dewasa dalam perkembangan ke arah pemantapan kepribadian dan dalam penyelesaian konflik sepanjang masa hidupnya yaitu:
1.    Kompensasi: tingkah laku konpensatoris dapat dilihat pada seorang anak apabila ia memakai energi berlebihan untuk membentuk sifat, perbuatan untuk meringankan ketegangan yang disebabkan oleh suatu kekurangan yang sungguh ada atau kekurangan yang dibayangkan dalam khayalan.
2.    Introyeksi: angan-angan, sikap-sikap, pendapat-pendapat, nilai sosial, nilai moral dan etis, maupun keyakinan agama diperoleh anak dari orang tua atau orang lain melalui proses introyeksi.
3.    Proyeksi: mekanisme pertahanan ini akan dipakai oleh seorang anak melalui usaha untuk menyalahkan orang lain sebagai sumber dari kegagalannya.
4.    Identifikasi: mekanisme pertahanan dalam bentuk identifikasi sering dipakai oleh seorang anak dengan jalan menyamakan dirinya dengan anak yang pandai atau menempatkan dirinya pada tempat anak tersebut.
5.    Rasioanalisasi: sebagai mekanisme pertahanan sering dipakai untuk mempertahankan harda diri dengan menipu diri.
6.    Mekanisme menjauhkan diri: dapat dibagi menjadi tiga yaitu malu, penolakan, dan kemunduran.

III.    KOMENTAR:
Ketika kita berhadapan langsung dengan anak atau orang lain hal pertama yang baik perlu kita pelajari dari diri anak atau orang tersebut adalah mengenai kepribadiannya. Cara kita menilai anak atau orang tersebut tergantung dengan bagaimana kita dapat mengenal kepribadian anak dan orang tersebut dengan baik.  Oleh sebab itu, menjadi pembelajaran yang baik bagi penulis untuk dapat memahami orang-orang disekitar penulis dari latar belakang kehidupan mereka terutama mengenai lingkungan tempat tinggal mereka dan bagaimana latar belakang kehidupannya. Sehingga, kita tidak akan heran dan akan bisa menerima keberadaan orang disekitar kita ketika kita dapat mengetahui dan memahami tentang latar belakang dari kepribadian mereka.
Jadi ketika kita dipercayakan untuk menjadi konselor pengenalan akan kepribadian dari konsele kita sangat penting, supaya kita tidak salah dalam cara menanganinya dan menolong mereka untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, konselor juga  tidak boleh terlalu cepat untuk membuat suatu kesimpulan mengenai kepribadian konsele, sehingga terkesan hanya menebak-nebak saja. Akan tetapi kita perlu kesabaran dan minta pimpinan Tuhan untuk membukakan sesuatu yang perlu kita pelajari dari konsele yang kita layani. Pengetahuan penting dalam hal ini untuk memahami kepribadian konsele, akan tetapi yang lebih penting adalah perlu adanya hikmat dan pimpinan Tuhan untuk dapat mengertahuinya. Dengan cara Tuhan juga, kita akan menolong konsele dari setiap hal yang dihadapinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar