SEMANGAT

SEMANGAT

Kamis, 21 Februari 2013

BIMBINGAN KONSELING- SIKAP MANIPULATIF PADA ANAK

 SIKAP MANIPULATIF PADA ANAK

Beberapa fase mengenai kecenderungan seorang anak untuk perperilaku manipulatif:

1. Pada usia mengenal lingkungan , sekitar umur 3 tahun, seorang anak berbohong karena tidak bisa membedakan mana yang fantasi dan mana yang berupa kebenaran. Pada umur itu, anak-anak juga biasa melupakn apa yang telah dilakukan.
2. Sekitar umur 5 atau 6 tahun, anak-anak mulai bisa membedakan mana yang merupakan fantasi dan mana yag kenyataan sesungguhnya. Pada umur ini, anak mulai belajar apa yang disetujui dan apa yang tidak disetujui orangtuanya. Selain itu seorang anak juga mulai membangun rasa bersalah jika melakukan tindakan yang tidak semestinya. Pada saat inilah dimungkinkan bohong dilakukan seorang anak untuk menghindari ketidaksetujuan orangtua atau hukuman. Misalnya karena orang tua selalu memarahi bila merusak sesuatu, maka ketika memecahkan gelas, sang anak khawatir bakal mendapatkan kesulitan. Umur 5-6 tahunan juga merupakan umur di mana seorang anak ingin mendapatkan perhatian lebih dari orangtuanya. Oleh karena itu salah satu strategi untuk menarik perhatian adalah dengan berbohong.
3. Menginjak usia 7-8 tahun, kebanyakan anak telah belajar membedakan yang kenyataan dan yang berupa fantasi. Umummnya alasan berbohong pada umur ini adalah untuk menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada umur ini, seorang anak juga mulai belajar tentang kesopanan. Mereka mulai bisa berpura-pura menyukai sesuatu yang tidak disukainya. Misalnya ada tetangga memberi kue, maka akan dibilang sangat enak meskipun tidak menyukai kue itu. Salah satu yang paling menarik mengenai bohong anak-anak pada usia ini adalah bohong menangis untuk membantu temannya yang diganggu teman yang lain. Tangisan membuat kejadian itu diperhatikan oleh orang lain. Ini artinya bohong digunakan untuk membantu.
4. Pada saat remaja, kebohongan biasanya dilakukan untuk melindungi privasi membangun independensi, dan menghindari kebingungnan. Selain itu bisa jadi bohong dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan jika mengatakan kebenaran. Misalnya memita uang untuk membeli mainan tidak akan diberi, tapi meminta uang untuk membeli buku akan diberi. Oleh sebab itu mereka meminta uang pada orangtua untuk membeli mainan meski sebenarnya untuk membeli buku.

Sebagai orang tua harus bisa menyikapi perilaku anak dengan tepat. Ada beberapa hal yang perlu diingat:
    Anak pada dasarnya terlahir TIDAK dengan perilaku manipulatif
    Mereka belajar trik-trik menipulatif TANPA SENGAJA, “TRIAL and ERROR” dan melalui OBSERVASI di lingkungan sekitarnya tempat mereka berinteraksi.
    Anak akan selalu ingat, ketika dia menangis, seoarang pasti akan datang mendekati dan melayaninya. Bila dia berpura-pura sakit, dia terbatas dari tugas membereskan kamar dan mainannya sendiri atau tugas lainnya.
    Selanjutnya dengan BERBOHONG, dia tidak akan ditegur atau dimarahi dan mendapatkan simpati.
    Ketika perbuatan-perbutan ini dilakukan berulang-ulang dan berhasil, maka kelakuan seperti ini akan menjadi satu kebiasaan.

Beberapa cara berikut bisa mencegah dan mengurangi perilaku tantrum manipulatifnya.
     Pahami lebih dulu tuntutan atau keinginan anak. Anda tak harus serta merta menuruti atau lebih ekstrim langsung menolak.  Sejauh itu adalah permintaan yang wajar sesuai kebutuhan anak. Jika ingin memenuhi keinginannya, beri jeda antara saat anak meminta dengan saat Anda memenuhi permintaannya. Ini untuk melatih anak menunda pemenuhan keinginan.
     Hindari mengumbar janji. Tidak setiap keinginan anak bisa Anda penuhi, itu betul. Tapi mengumbar janji untuk menghindari rengekan bukan cara yang tepat. Anak selalu ingat janji,dan dia akan selalu menagihnya hingga terpenuhi. Anak seringkali minta sesuatu hanya untuk memuaskan rasa inginnya. Jelaskan padanya bahwa keinginan tidak sama dengan kebutuhan.  Memberi janji tanpa menepati, mengajarkan anak untuk ingkar janji.
     Kenali tangisannya. Saat mulai menangis karena  keinginannya tidak terpenuhi, perhatikan tingkahnya. Sambil menangis, anak akan melirik pada Anda  untuk memastikan kegalauan hati Anda. Lihatlah! Anak akan memeras-meras matanya untuk mengeluarkan air mata. Ini pertanda dia sedang memanipulasi perasaan Anda.
     Berikan time out, bila anak mulai   bertindak destruktif karena tuntutannya diabaikan. Misalnya memukul dan merusak barang-barang di sekitarnya.
     Peluk anak jika time out tidak berhasil. Jelaskan bahwa perilakunya tidak bisa diterima dan jelaskan padanya bahwa apa yang Anda lakukan adalah bentuk cinta Anda padanya.
     Bawa anak masuk ke mobil atau toilet jika mulai memanipulasi Anda di tempat umum.  Tunggu sampai anak tenang. Jelaskan, bila dia tidak bisa berhenti merengek, Anda akan mengajaknya pulang. 
     Tenangkan diri Anda bila di tempat  umum, agar tidak terjebak dalam permainan anak. Bila panik, Anda akan segera menghentikan tangisnya dengan memenuhi tuntutannya.  
     Menjauhlah sesaat, masuk kamar dan tenangkan diri jika Anda mulai galau  dan bingung apa yang sebaiknya dilakukan. Tarik nafas, jernihkan pikiran. Saat anak tenang, ajak melakukan kegiatan lain. Membahas kembali keinginan anak yang tak bisa Anda penuhi, akan memancing kembali rengekannya.
     Abaikan tangisnya, ketika anak bersikap merengek dan menangis mempermainkan emosi Anda. Putarlah musik, dan berjogetlah di hadapan anak tanpa menatap matanya. Sadar tangisnya tak dapat  mengubah keputusan Anda, anak akan berhenti memainkan perasaan Anda.
     Konsisten terhadap keputusan. Jika Anda memang tidak ingin mengabulkan keinginan anak, tetaplah teguh pada pendirian dan jangan ‘terjebak’.  Bila Anda luluh, akan semakin menguatkan pemahaman anak bahwa Anda mudah dipermainkan.
     Ajak anak ke kamar mandi, jika dia pura-pura menangis dan pura-pura ingin muntah. Anak akan menggunakan segala cara untuk menggoyah pendirian Anda. Biasanya ketika anak menangis sampai muntah, Anda akan memeluknya.  Dalam hal ini Anda tetap harus jeli melihat kepura-puraan itu. Ajak anak ke kamar mandi, katakan bahwa dia tidak boleh muntah di sembarang tempat. Malu usahanya tak berhasil, anak takkan melakukannya lagi.
     Beri contoh, bahwa Anda bukan orang yang impulsif ingin seketika memenuhi keinginanya. Ungkapkan ini pada anak, misalnya “Tadi di toko ada tas bagus banget. Warnanya bunda suka. Tapi, setelah bunda pikir, bunda masih punya tas lain yang masih bagus, jadi bunda nggak beli.”
KOMENTAR:
Dari materi di atas mengenai mengatasi anak manipulatif menjadi ulasan yang menarik karena sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya terjadi pada anak saja tentunya. Orang dewasa pun juga melakukannya. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana mengatasi ketika anak bersikap manipulatif. Yang kita perlu adalah kita perlu bersikap tegas dan juga konsisten dengan keputusan yang kita buat. Kita juga harus mengenali apa penyebab utama anak melakukan hal tersebut setelah itu kita mulai melakukan tindakan yang tepat kepada anak. Dan kita juga tidak boleh cepat terpancing dengan emosi. Untuk menangani anak tersebut, kita perlu membangun rasa aman kepada anak dan pererat komunikasi kepada anak sehinggi kita bisa mengenal anak dengan baik.
Sumber:
1.    http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Terbaru/Terbaru/menangani.anak.tantrum.manipulatif/001/007/1153/3
2.    http://article.duniaaretha.com/2011/01/si-kecil-berperilaku-manipulatif.html








Tidak ada komentar:

Posting Komentar