SEMANGAT

SEMANGAT

Kamis, 21 Februari 2013

BIMBINGAN KONSELING-MOTIVASI

MOTIVASI
I.    DATA BUKU:

Judul Buku        : Konseling yang Efektif dan Alkitabiah 
Penulis            : Larry Crabb
Penerbit        : ANDI
Tempat  Terbit    : Yogyakarta
Tahun Terbit        : 1995
Buku Yang Dibaca    : Hal 87-103
Membaca Tanggal    : 07 Oktober 2012

II.    INTI BUKU

BAB IV MOTIVASI: Mengapa Kita Melakukan Apa yang Kita Lakukan?
     Ada 5 pernyataan dasar mengenai motivasi:
1.    Motivasi secara khas bergantung pada keadaan manusia yang membutuhkan, atau dalam bahasa yang sederhana, kita dimotivasi untuk memenuhi keperluan-keperluan kita.
2.    Motivasi merupakan sebuah kata yang mengacu kepada energi atau kekuatan yang akibat pada tingkah laku secara khusus. Sebelum menjadi tingkah laku yang khusus, energi yang bermotivasi dihubungkan melalui pikiran. Di sanalah energi mengambil alih arah. Motivasi untuk memenuhi suatu keperluan dengan melakukan hal-hal tertentu yang saya percayai dalam pikiran saya akan memenuhi pikiran ini.
3.    Tingkah laku yang mendorong selalu diarahkan menuju suatu sasaran. Saya percaya bahwa menuju suatu sasaran. Saya percaya bahwa sesuatu akan memenuhi keperluan saya. Sesuatu itu menjadi sasaran saya.
4.    Apabila sasaran itu tidak dapat dicapai (atau apabila individu yang menyadari hal itu tidak dapat dicapai), maka keadaan tidak seimbang muncul (secara subyektif dirasa sebagai suatu kegelisahan). Keperluan merupakan kepuasan yang disangkal menjadi suatu sumber dari emosi-emosi negatif. Dalam istilah yang lebih sederhana yaitu apabila saya tidak dapat memiliki apa yang saya pikir saya butuhkan untuk makna atau rasa aman, maka saya merasa tidak berharga. Saya kemudian dimotivasi untuk melindungi keperluan saya untuk merasa berharga dari luka selanjutnya dengan mengurangi perasaan-perasaan tidak memiliki makna atau rasa aman.
5.    Semua tingkah laku terdorong oleh motivasi. Tidak ada sesuatu yang lebih parah daripada seseorang yang tidak memiliki motivasi. Kemalasan, penundaan, penarikan diri sering terdorong oleh keinginan yang kuat untuk melindungi diri dari perasaan-perasaan yang bertambah terhadap tidak adanya  nilai. Dalam menganalisa tingkah laku, seseorang seharusnya tidak pernah berkata, “Tidak ada alasan untuk itu. Itu benar-benar tidak masuk akal.” Semua tingkah laku pasti ada maksud-maksudnya. Mungkin tingkah laku yang berdosa, tidak efektif, atau ganjil, tetapi pasti ada maksudnya. Agar dapat mengerti setiap unit dari tingkah laku, gagasan seseorang mengenai apa yang akan memenuhi keperluan, sasaran yang telah ditetapkan dalam pemikirannya sebagai sesuatu yang sangat diinginkan, dan keberhasilanatau kegagalan dari seseorang dalam mencapai sasaran.

     Teori Kebutuhan A. Maslow
Hierarki keperluan klasik yang dikemukakan Abraham Maslow menyarankan bahwa manusia memiliki lima keperluan dasar. Yang terendah dalam hirarki itu harus dipenuhi sebelum orang itu dimotivasi untuk memenuhi keperluan kedua dan selanjutnya naik ke hierarki yang lebih atas.                                     

               
           
       
                             
1.    Agar dapat menyesuaikan diri dengan baik, maka Anda harus mencapai tingkat aktualisasi diri.
2.    Agar dapat mencapai tingkat itu, maka Anda harus melewati empat tingkatan yang lainnya: keperluan fisik dan pribadi Anda harus dipenuhi sebelum Anda berada dalam posisi memilliki aktualisasi diri.
3.    Jika keperluan-keperluan pribadi hanya dapat dipenuhi dalam hubungan dengan Allah yang bersifat pribadi, maka hanya seorang Kristen yang memiliki sumber-sumber untuk mencapai tingkat kelima, untuk mengaktualisasikan dirinya dan dengan demikian dapat benar-benar dengan baik menyesuaikan diri.

III.    KOMENTAR
Menurut Henry Ward Beecher “Allah menciptakan manusia untuk hidup melalui motivasi-motivasi, dan manusia tidak dapat hidup tanpanya, dan orang yang hidup tanpa motivasi bagaikan sebuah kapal yang tidak memiliki uap atau seperti sebuah balon tanpa gas.” Jadi dari pernyataan tersebut mengindikatorkan bahwa motivasi sangat perperan penting dalam menggerakkan seseorang. Motivator terbesar dalam hidup kita adalah Tuhan Yesus sendiri, setelah itu diri kita sendiri kemudian dari orang lain. Manusia memunyai hak bebas untuk memilih atau menentukan jalan hidupnya. Apakah memutuskan  untuk mengerjakan sesuatu yang besar, yang biasa-biasa atau tidak mengerjakan sesuatu apapun. Tingkat keberhasilan seseorang adalah tergantung dari motivasi dalam diri orang tersebut. Defisit motivasi bisa terjadi atau dialami oleh orang-orang yang merasa diri inferiority sehingga tidak dapat mengaktualisasikan diri. Teori A. Maslow menyatakan bahwa kemampuan untuk dapat mengaktualisasikan diri merupakan wujud dari motivasi ekspresi dimana seseorang sudah terpenuhi empat kebutuhan dasarnya serta sudah mengalami  kepenuhan Ilahi dalam hidupnya. Ketika orang lain atau bahkan diri kita tidak memunyai atau memberikan motivasi mari temukan motivasi dalam pribadi Yesus, Sang Motivator Sejati.

Degradasi Nasionalisme Indonesia

 
Kondisi Indonesia Sekarang
Sejumlah aktivis pemuda menilai prinsip nasionalisme  dalam diri pemuda Indonesia umumnya telah mengalami degradasi lantaran terus menerus tergerus oleh nilai-nilai dari luar. Degradasi nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia muncul karena kegagalan dalam merevitalisasi (menghidupkan kembali) dan mendefinisikan pemahaman nasionalisme. Pemuda Indonesia umumnya belum sadar akan ancaman arus global yang terus menerus menggerogoti identitas bangsa. Kondisi semakin parah lantaran masih kurang maksimalnya distribusi keadilan pembangunan yang dilakukan pemerintah sehingga semakin menumbuhkan semangat etnonasionalisme yang jika dibiarkan akan mengancam eksistensi NKRI.
Degradasi nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia kondisinya semakin parah karena belum adanya pembaharuan atas pemahaman dan prinsip nasionalisme dalam diri pemuda. Kegagalan meredefinisi nilai-nilai nasionalisme telah menyebabkan hingga kini belum lahir sosok pemuda Indonesia yang dapat menjadi teladan. Akibatnya peran orang tua masih sangat mendominasi segala sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan berjalannya waktu, semangat heroik dalam janji yang terkenal dengan Sumpah Pemuda itu mengalami pergeseran arti maupun pemahamannya. Arti Sumpah Pemuda tentu berbeda dari saat perjuangan dulu. Bila dulu dijadikan sebagai alat pemersatu, maka seharusnya kini dijadikan sebagai cambuk bagi pemuda Indonesia untuk berbuat yang lebih baik demi kemajuan negara. Kenegaraan Indonesia berkembang sesuai dinamika perubahan yang amat besar terutama berkaitan dengan globalisasi dan reformasi. Dalam perubahan ini setiap komponen bangsa termasuk pemuda dituntut kontribusinya sesuai kemampuan, kompetensi, dan profesinya. Pemuda dituntut untuk mengembangkan sikap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya bangsa, sikap keteladanan dan disiplin. Di sisi lain, perlu diciptakan suasana yang lebih dinamis dan demokratis yang mendorong pemuda untuk berkiprah dalam transformasi pembangunan baik regional maupun skala global.
Runtuhnya nasionalisme tidak terlepas dari ekspansi tanpa henti dari pengaruh globalisasi. Saat ini, pemuda Indonesia seperti kehilangan akar yang kuat sebagai bagian daru elemen bangsa. Perilaku kebarat-baratan itu sudah semakin parah menjangkiti pemuda di kota. Tergerusnya akar tradisi sebagai bangsa Indonesia akibat ekspansi globalisasi bisa menjadi ancaman besar bagi eksistensi NKRI. Tantangan pemuda saat ini berbeda dengan era tahun 1928 atau 1945. Jika dulu nasionalisme pemuda diarahkan untuk melawan penjajahan, kini nasionalisme diposisikan secara proporsional dalam menyikapi kepentingan pasar yang diusung kepentingan global, dan nasionalisme yang diusung untuk kepentingan negara.
Memang, nasionalisme nasional telah berubah menjadi nasionalisme regional. Indikatornya adalah muncul berbagai konflik sosial dan politik, baik dalam bentuk konflik vertical maupun konflik horizontal di beberapa daerah. Realitas tersebut membuktikan telah terjadi penurunan nilai nasionalisme di tingkat lokal, meskipun hanya dikumandangkan oleh sebagian kecil masyarakat.
Penyebab hilangnya rasa nasionalisme
Faktor Internal
1. Pemerintahan pada zaman reformasi yang jauh dari harapan para anak, sehingga membuat mrka kecewa pada kinerja pemerintah saat ini. Terkuaknya kasus-kasus korupsi, penggelapan uang Negara, & penyalahgunaan kekuasaan oleh para pejabat Negara membuat para pemuda enggan utk memerhatikan lagi pemerintahan.
2. Sikap keluarga & lingkungan sekitar yang tidak mencerminkan rasa nasionalisme & patriotisme, sehingga para anak meniru sikap tersebut. Para anak merupakan peniru yang baik terhadap lingkungan sekitarnya.
3. Demokratisasi yang melewati batas etika & sopan santun dan maraknya unjuk rasa, telah menimbulkan frustasi di kalangan anak & hilangnya optimisme, sehingga yang ada hanya sifat malas, egois & emosional.
4. Tertinggalnya Indonesia dengan Negara-negara lain dalam segala aspek kehidupan, membuat para pemuda tidak bangga lagi menjadi bangsa Indonesia.
5. Timbulnya etnosentrisme yang menganggap sukunya lebih baik dari suku-suku lainnya, membuat anak lebih mengagungkan daerah atau sukunya daripada persatuan bangsa.
Faktor Eksternal
1. Cepatnya arus globalisasi yang berimbas pada moral pemuda. Mereka lebih memilih kebudayaan negara lain, dibandingkan dengan kebudayaanya sendiri, sbg contohnya para pemuda lbh memilih memakai pakaian minim yang mencerminkan budaya barat dibandingkan memakai batik atau baju yang sopan yang mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Para pemuda kini dikuasai oleh narkoba & minum2 keras, sehingga sgt merusak martabat bangsa Indonesia
2. Paham liberalisme yang dianut oleh Negara2 barat yang memberikan dampak pada kehidupan bangsa. Anak cenderung meniru paham libelarisme, seperti sikap individualisme yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan sekitar & sikap acuh tak acuh pada pemerintahan.

Langkah menumbuhkan Nasionalisme:
1.    Impelementasi Nasionalisme Pemuda
Mungkin kita para pemuda khususnya para mahasiswa, bingung apa yang seharusnya kita lakukan untuk menolong bangsa yang sudah bobrok ini agar kembali bermatabat, beretika, dan sejahtera layaknya cerita nenek moyang kita dulu. Mahasiswa sebagai agent of change rasanya tidak cukup, tetapi sebagai directur of change  karena mahasiswalah insan yang menjunjung tinggi idealisme yang dapat merubah bangsa ini. Merubah memang tidak mudah dan butuh pengorbanan besar dan periode yang lama sedangkan masalah sudah terlampau kompleks. Yang dapat kita lakukan adalah menerapkan nilai – nilai ideologi pancasila dan patriotisme di rutinitas sehari – sehari, berkarya untuk negeri, dan cintai produk anak bangsa. Memimpin diri untuk berubah menjadi insan yang kritis agar tetap bisa menjaga bangsa kita dari penyelewengan – penyelewengan nilai – nilai Pancasila yang katanya menjadi dasar negara kita. Semoga para pemuda khususnya pelajar/mahasiswa, bisa bertekad dan mewujudkan tujuan mulia ini di bidang masing – masing untuk bangsa ini dan untuk anak cucu kita sesuai dengan salah satu doa dan harapan orang tua kita sewaktu lahir, yaitu “menjadi anak yang berguna bagi nusa bangsa dan agama”. (Hikmatyar R.A)


2.    Merevitalisasi Kebhinekaan
Tidak bisa dipungkiri, spirit kebhinekaan dan nasionalisme kini ada pada masa genting. Banyak masyarakat, terutama pemuda, yang sudah mulai apatis terhadap sejarah bangsanya sendiri. Padahal dulu kita sering diingatkan bahwa "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya". Tapi sepertinya kini sejarah bangsa kita lebih banyak diminati bahkan diteliti oleh orang asing. Seperti Benedict Anderson yang menulis buku tentang Indonesia atau Film The Act of Killing yang menceritakan tentang sejarah PKI. Itu semua dibuat oleh bukan orang Indonesia, sementara kita menelan mentah-mentah karya mereka.
Selain itu, peran media dalam pemberitaan juga menimbulkan efek negatif terhadap melunturnya sikap nasionalisme masyarakat. Media memiliki porsi pemberitaan tentang kasus korupsi, tindak kekerasan, kriminal dan seksual yang jauh lebih besar dari pada pemberitaan tentang kearifan lokal serta cerita kepahlawanan tokoh "sunyi" ditengah masyarakat. Sehingga para guru menjadi repot dalam memberikan contoh tentang sikap pancasilais masyarakat itu sendiri. Hasilnya pelajaran tentang moral dan Pancasila hanya menjadi teori yang tertulis di dalam buku.
Untuk itu pemahaman tentang kebhinekaan perlu lebih digalakkan lagi, dimulai dari sekolah dengan memberikan motivasi tentang betapa pentingnya kebhinekaan serta motivasi dalam mencintai tanah air sebagai buah dari perjuangan para founding father serta para pahlawan yang sudah berjuang hingga gugur di medan perang.
Selain itu media juga perlu mengusung semangat nasionalisme melalui pemberitaan yang disiarkan. Bukan semata-mata memberitakan tentang betapa bobroknya negara ini. Paradigma Bad News is A Good News sudah layaknya dirubah menjadi Good News is a good news too. Sebab media juga memiliki fungsi dan peran sebagai pembentuk opini publik.
Melalui gerakan Revitalisasi Kebhinekaan, semoga dapat membangkitkan kembali semangat nasionalisme terutama untuk para pemuda sebagai ujung tombak suatu bangsa. Bayangkan saja jika pemuda tak lagi memiliki spirit nasionalisme, serta tidak menjunjung tinggi kebhinekaan. Maka lambat laun negara ini akan menjadi negara amburadul sebab tak ada lagi yang menjunjungnya sebagai tanah air dan tak ada lagi yang mencintai ibu pertiwi.

 KOMENTAR:
Untuk menumbuhkan semangat nasionalisme harus dimulai dari diri kita sendiri. Jangan mengharapkan terjadi perubahan dalam sekup luas atau besar dalam hal ini Indonesia. Jika pada kenyataannya di dalam lingkup kita ikatan sukuisme masih kuat. Menjadi tanggung jawab kita bersama bagaimana merubah nasionalisme regional menjadi nasionalisme nasional. Perlu pengimplementasian setiap hari nilai-nilai Pancasila dan juga semangat keberagaman dalam berbineka tunggal ika. Dunia kebarat-baratan sangat mendominasi di kalangan pemuda Indonesia ini berakibat akan cara pandang dan juga perubahan hidup anak muda. Tayangan media elektronik juga berpengaruh terhadap perubahan gaya hidup anak muda. Jika kita melihat sekarang tayangan mengenai nilai kearifan lokal atau budaya lokal Indonesia menjadi sangat jarang ditampilkan. Kebanyakkan adalah budaya luar negeri yang lebih diminati dan diikuti oleh anak-anak muda. Nach, ini menjadi tugas kita bersama untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme dan juga patriotisme.





SUMBER:
http://maulanusantara.wordpress.com/2010/10/14/refleksi-sumpah-pemuda-merenungi-peran-pemuda/
http://abimanyu.students-blog.undip.ac.id/2010/11/04/implementasi-nasionalisme-pemuda-untuk-ibu-pertiwi/
http://belanegarari.wordpress.com/2011/12/29/menumbuhkan-kembali-semangat-nasionalisme-pemuda-indonesia/



BIMBINGAN KONSELING- SIKAP MANIPULATIF PADA ANAK

 SIKAP MANIPULATIF PADA ANAK

Beberapa fase mengenai kecenderungan seorang anak untuk perperilaku manipulatif:

1. Pada usia mengenal lingkungan , sekitar umur 3 tahun, seorang anak berbohong karena tidak bisa membedakan mana yang fantasi dan mana yang berupa kebenaran. Pada umur itu, anak-anak juga biasa melupakn apa yang telah dilakukan.
2. Sekitar umur 5 atau 6 tahun, anak-anak mulai bisa membedakan mana yang merupakan fantasi dan mana yag kenyataan sesungguhnya. Pada umur ini, anak mulai belajar apa yang disetujui dan apa yang tidak disetujui orangtuanya. Selain itu seorang anak juga mulai membangun rasa bersalah jika melakukan tindakan yang tidak semestinya. Pada saat inilah dimungkinkan bohong dilakukan seorang anak untuk menghindari ketidaksetujuan orangtua atau hukuman. Misalnya karena orang tua selalu memarahi bila merusak sesuatu, maka ketika memecahkan gelas, sang anak khawatir bakal mendapatkan kesulitan. Umur 5-6 tahunan juga merupakan umur di mana seorang anak ingin mendapatkan perhatian lebih dari orangtuanya. Oleh karena itu salah satu strategi untuk menarik perhatian adalah dengan berbohong.
3. Menginjak usia 7-8 tahun, kebanyakan anak telah belajar membedakan yang kenyataan dan yang berupa fantasi. Umummnya alasan berbohong pada umur ini adalah untuk menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada umur ini, seorang anak juga mulai belajar tentang kesopanan. Mereka mulai bisa berpura-pura menyukai sesuatu yang tidak disukainya. Misalnya ada tetangga memberi kue, maka akan dibilang sangat enak meskipun tidak menyukai kue itu. Salah satu yang paling menarik mengenai bohong anak-anak pada usia ini adalah bohong menangis untuk membantu temannya yang diganggu teman yang lain. Tangisan membuat kejadian itu diperhatikan oleh orang lain. Ini artinya bohong digunakan untuk membantu.
4. Pada saat remaja, kebohongan biasanya dilakukan untuk melindungi privasi membangun independensi, dan menghindari kebingungnan. Selain itu bisa jadi bohong dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan jika mengatakan kebenaran. Misalnya memita uang untuk membeli mainan tidak akan diberi, tapi meminta uang untuk membeli buku akan diberi. Oleh sebab itu mereka meminta uang pada orangtua untuk membeli mainan meski sebenarnya untuk membeli buku.

Sebagai orang tua harus bisa menyikapi perilaku anak dengan tepat. Ada beberapa hal yang perlu diingat:
    Anak pada dasarnya terlahir TIDAK dengan perilaku manipulatif
    Mereka belajar trik-trik menipulatif TANPA SENGAJA, “TRIAL and ERROR” dan melalui OBSERVASI di lingkungan sekitarnya tempat mereka berinteraksi.
    Anak akan selalu ingat, ketika dia menangis, seoarang pasti akan datang mendekati dan melayaninya. Bila dia berpura-pura sakit, dia terbatas dari tugas membereskan kamar dan mainannya sendiri atau tugas lainnya.
    Selanjutnya dengan BERBOHONG, dia tidak akan ditegur atau dimarahi dan mendapatkan simpati.
    Ketika perbuatan-perbutan ini dilakukan berulang-ulang dan berhasil, maka kelakuan seperti ini akan menjadi satu kebiasaan.

Beberapa cara berikut bisa mencegah dan mengurangi perilaku tantrum manipulatifnya.
     Pahami lebih dulu tuntutan atau keinginan anak. Anda tak harus serta merta menuruti atau lebih ekstrim langsung menolak.  Sejauh itu adalah permintaan yang wajar sesuai kebutuhan anak. Jika ingin memenuhi keinginannya, beri jeda antara saat anak meminta dengan saat Anda memenuhi permintaannya. Ini untuk melatih anak menunda pemenuhan keinginan.
     Hindari mengumbar janji. Tidak setiap keinginan anak bisa Anda penuhi, itu betul. Tapi mengumbar janji untuk menghindari rengekan bukan cara yang tepat. Anak selalu ingat janji,dan dia akan selalu menagihnya hingga terpenuhi. Anak seringkali minta sesuatu hanya untuk memuaskan rasa inginnya. Jelaskan padanya bahwa keinginan tidak sama dengan kebutuhan.  Memberi janji tanpa menepati, mengajarkan anak untuk ingkar janji.
     Kenali tangisannya. Saat mulai menangis karena  keinginannya tidak terpenuhi, perhatikan tingkahnya. Sambil menangis, anak akan melirik pada Anda  untuk memastikan kegalauan hati Anda. Lihatlah! Anak akan memeras-meras matanya untuk mengeluarkan air mata. Ini pertanda dia sedang memanipulasi perasaan Anda.
     Berikan time out, bila anak mulai   bertindak destruktif karena tuntutannya diabaikan. Misalnya memukul dan merusak barang-barang di sekitarnya.
     Peluk anak jika time out tidak berhasil. Jelaskan bahwa perilakunya tidak bisa diterima dan jelaskan padanya bahwa apa yang Anda lakukan adalah bentuk cinta Anda padanya.
     Bawa anak masuk ke mobil atau toilet jika mulai memanipulasi Anda di tempat umum.  Tunggu sampai anak tenang. Jelaskan, bila dia tidak bisa berhenti merengek, Anda akan mengajaknya pulang. 
     Tenangkan diri Anda bila di tempat  umum, agar tidak terjebak dalam permainan anak. Bila panik, Anda akan segera menghentikan tangisnya dengan memenuhi tuntutannya.  
     Menjauhlah sesaat, masuk kamar dan tenangkan diri jika Anda mulai galau  dan bingung apa yang sebaiknya dilakukan. Tarik nafas, jernihkan pikiran. Saat anak tenang, ajak melakukan kegiatan lain. Membahas kembali keinginan anak yang tak bisa Anda penuhi, akan memancing kembali rengekannya.
     Abaikan tangisnya, ketika anak bersikap merengek dan menangis mempermainkan emosi Anda. Putarlah musik, dan berjogetlah di hadapan anak tanpa menatap matanya. Sadar tangisnya tak dapat  mengubah keputusan Anda, anak akan berhenti memainkan perasaan Anda.
     Konsisten terhadap keputusan. Jika Anda memang tidak ingin mengabulkan keinginan anak, tetaplah teguh pada pendirian dan jangan ‘terjebak’.  Bila Anda luluh, akan semakin menguatkan pemahaman anak bahwa Anda mudah dipermainkan.
     Ajak anak ke kamar mandi, jika dia pura-pura menangis dan pura-pura ingin muntah. Anak akan menggunakan segala cara untuk menggoyah pendirian Anda. Biasanya ketika anak menangis sampai muntah, Anda akan memeluknya.  Dalam hal ini Anda tetap harus jeli melihat kepura-puraan itu. Ajak anak ke kamar mandi, katakan bahwa dia tidak boleh muntah di sembarang tempat. Malu usahanya tak berhasil, anak takkan melakukannya lagi.
     Beri contoh, bahwa Anda bukan orang yang impulsif ingin seketika memenuhi keinginanya. Ungkapkan ini pada anak, misalnya “Tadi di toko ada tas bagus banget. Warnanya bunda suka. Tapi, setelah bunda pikir, bunda masih punya tas lain yang masih bagus, jadi bunda nggak beli.”
KOMENTAR:
Dari materi di atas mengenai mengatasi anak manipulatif menjadi ulasan yang menarik karena sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya terjadi pada anak saja tentunya. Orang dewasa pun juga melakukannya. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana mengatasi ketika anak bersikap manipulatif. Yang kita perlu adalah kita perlu bersikap tegas dan juga konsisten dengan keputusan yang kita buat. Kita juga harus mengenali apa penyebab utama anak melakukan hal tersebut setelah itu kita mulai melakukan tindakan yang tepat kepada anak. Dan kita juga tidak boleh cepat terpancing dengan emosi. Untuk menangani anak tersebut, kita perlu membangun rasa aman kepada anak dan pererat komunikasi kepada anak sehinggi kita bisa mengenal anak dengan baik.
Sumber:
1.    http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Terbaru/Terbaru/menangani.anak.tantrum.manipulatif/001/007/1153/3
2.    http://article.duniaaretha.com/2011/01/si-kecil-berperilaku-manipulatif.html








BIMBINGAN KONSELING- Sikap Menutup Diri

Sikap Menutup Diri
 
I.    DATA BUKU:
Judul Buku    : Dasar-dasar Konseling 
                  Pastoral
Penulis        : Tukus Tu’u, S. Th, M.Pd
Penerbit        : ANDI
Tempat  Terbit    : Yogyakarta
Tahun Terbit    : 2007
Buku Yang Dibaca: Hal 145-164
Membaca Tanggal: 22 Oktober 2012


I.    INTI BUKU

Bentuk Sikap Menutup Diri
1.    Menghindar
2.    Menbisu
3.    Tidak serius
4.    Mengalihkan Fokus Percakapan
5.    Mendebat
6.    Bicara Berlebihan
7.    Menyepelekan

Penyebab Konseli Menutup Diri
1.    Perasaan Takut
2.    Perasaan Cemas
3.    Ragu-ragu pada Konselor
4.    Melindungi Diri
5.    Tidak Tahu Apa yan Akan Terjadi
6.    Bingung
Membuka File yang Tersembunyi Atau
Menghadapi Konseli yang Menutup Diri
(BK DEWASA)

I.    INTI BUKU

Bentuk Sikap Menutup Diri
1.    Menghindar
2.    Menbisu
3.    Tidak serius
4.    Mengalihkan Fokus Percakapan
5.    Mendebat
6.    Bicara Berlebihan
7.    Menyepelekan

Penyebab Konseli Menutup Diri
1.    Perasaan Takut
2.    Perasaan Cemas
3.    Ragu-ragu pada Konselor
4.    Melindungi Diri
5.    Tidak Tahu Apa yan Akan Terjadi
6.    Bingung
   Cara Menangani Konseli yang Menutup Diri
1.    Pendekatan Umum
a.    Bersahabat. Sahabat yagn baik adalah sahabat yang mau memahami dan mengerti sahabatnya, bahkan sahabat sejati adalah sahabat yang setia dalam suka dan duka dan mau memebela dan berjuang demi sahabatnya.
b.    Empati. Empati terhadap konseli berarti konselor berupaya sekuatnya untuk berada dan berdiri di tempat di mana konseli berada. Sikap berempati akan menyakinkan konseli bahwa konselor tidak main-main dan setengah hati. Tetapi konselor akan bersungguh-sungguh mau mengerti, memahani dan akan menolong serta mendampinginya. Ia tidak akan ditinggal sendirian.
c.    Melihat hal positif. Sebab dengan kacamata negatif, pandangan ke depan akan negatif. Sebaliknya, bila pikiran positif, pandangan akan positif juga.
d.    Akseptasi. Konselor tidak menolok konseli dan menerima konseli apa adanya baik hal yang positif maupun negatif yang ada dalam dirinya.
Pandai membaca bahasa tubuh. Gerak-gerik tubuh selalu memberi arti, makna dan pesan tertentu. Ketrampilanmembaca perilaku nonverbal ini akan membantu konselor dapat menafsirkan dan memahami serta mengerti keadaan konseli.

e.    Mencari alternatif.
f.    Kreatif. Kreatif adalah memiliki kemampuan daya cipta. Mengembangkan hal yang ada menjadi sesuatu yang lebih baru lagi.
g.    Fleksibel. Fleksibel adalah keadaan yang lentur, sehingga mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Tujuan utamanya adalah sekuat tenaga dapat merangkul dan mendorong konseli terbuka dan mau bekerja sama menemukan solusi menyelesaikan problem konseli.
h.    Pantang menyerah. Konselor terus mencari cara-cara untuk membuka jalan bagi keterbukaan konseli. Semangat membara tidak pernah padam, karena Tuhan Yesus Kristus ada dalam hatinya.
   Mengahadapi yang membisu:
a.    Memahami Konseli.
“Saya memahami kesulitan Anda. Anda nampaknya sulit menceritakan masalah Anda kepada saya. Mungkin cukup bijak bila Anda tidak terburu-buru mengatakan hal tersebut kepada saya. Namun, bila Anda telah siap, katakan kepada saya, sehingga kita dapat mencari solusi yang baik dari masalah Anda.”
b.    Membuat alternatif
“Kalau Anda tidak mau bicara, saya senang kalau Anda bersedia memberi jawaban dengan menggangukkan kepala atau menggelengkan kepala.”
c.    Kreatif
Minta kepada Konselor Agung agar diberi ilham dan inspirasi bagaimana cara menolong konseli yang membisu. Sebab itu, dalam proses konseling, jangan lupa ada doa pribadi terlebih dahulu.
d.    Tidak menekan
“Mungkin ada hal yang sukar anda sampaikan kepada saya. Tetapi, bila Anda telah merasa aman, nyaman, dan percaya kepada saya, barulah Anda menceritakan kepada saya. Kalau belum, memang sebaiknya anda jangan mengatakan pada saya. Anda setuju itu?
e.    Lain waktu
“Anda nampaknya benar-benar belum mampu membicarakan masalah pribadi Anda dengan saya. Saya sangat memahami kesulitan Anda. Oleh karena itu, saya sangat senang kalau kita belum memebicarakannya sekarang, kalau  Anda belum siap. Bagaimana kalau kita membicarakannya lain wakt, ketika Anda sudah benar-benar siap? Kalau Anda sudah siap, saya mohon anda mengatakan hal itu kepada saya. Anda setuju?
    Menghadapi yang Menolak/Menghindar
a.    Memahami Konseli
b.    Buat janji
c.    Cari pihak ketiga
d.    Alihkan perhatian

   Menangani Konseli yang Menutup Diri Menurut Kottler:
1.    Tetap tenang
2.    Lebih cerdik, krearif, dan luwes
3.    Tetap sabar
4.    Menghargai pendapat konseli yang bersikap menolak
5.    Waspada dan hindari jebakan-jebakan untuk menghambat
6.    Tetap memberi perhatian dan menerima tanpa menyetujui
7.    Bantulah konseli melihat motif sikap tertutup
8.    Yakinkan konseli bahwa sikap tertutup itu wajar sesuai kondisinya.
9.    Laksanakan peran dan tangung jawab konselor dalam situasi itu.

KOMENTAR:
Dari pembahasan diatas yang dapat penulis aplikasikan menjadi tips untuk dapat membuka file     tersembunyi adalah:
1.    Bangun persahabatan terlebih dahalu. Ciptakan rasa aman, nyaman dan konseli tidak merasa terancam itu sangat penting untuk melakukan pendekatan dengan konseli dari perasaan-perasaan takut, cemas, ragu-ragu,dll.
2.    Belajar untuk memahami konseli dengan cara berempati.
3.    Belajar untuk memahami dan mendengarkan apa yang dikatakan baik dalam bahasa verbal maupun nonverbal dengan penuh perhatian.
4.    Belajar untuk tidak menekan konseli dan memberikan komentar yang melemahkan konseli, menghargai setiap keputusan yang diambil oleh konseli.
5.    Konselor harus kreatif, tidak terpaku pada model-model, pola-pola, tahap-tahap, langkah-langkah, dan prisip-prinsip yang sudah ada. Minta inspirasi dan ilham dari Konselor Agung.




Membuka File yang Tersembunyi Atau
Menghadapi Konseli yang Menutup Diri
(BK DEWASA)

I.    INTI BUKU

Bentuk Sikap Menutup Diri
1.    Menghindar
2.    Menbisu
3.    Tidak serius
4.    Mengalihkan Fokus Percakapan
5.    Mendebat
6.    Bicara Berlebihan
7.    Menyepelekan

Penyebab Konseli Menutup Diri
1.    Perasaan Takut
2.    Perasaan Cemas
3.    Ragu-ragu pada Konselor
4.    Melindungi Diri
5.    Tidak Tahu Apa yan Akan Terjadi
6.    Bingung
   Cara Menangani Konseli yang Menutup Diri
1.    Pendekatan Umum
a.    Bersahabat. Sahabat yagn baik adalah sahabat yang mau memahami dan mengerti sahabatnya, bahkan sahabat sejati adalah sahabat yang setia dalam suka dan duka dan mau memebela dan berjuang demi sahabatnya.
b.    Empati. Empati terhadap konseli berarti konselor berupaya sekuatnya untuk berada dan berdiri di tempat di mana konseli berada. Sikap berempati akan menyakinkan konseli bahwa konselor tidak main-main dan setengah hati. Tetapi konselor akan bersungguh-sungguh mau mengerti, memahani dan akan menolong serta mendampinginya. Ia tidak akan ditinggal sendirian.
c.    Melihat hal positif. Sebab dengan kacamata negatif, pandangan ke depan akan negatif. Sebaliknya, bila pikiran positif, pandangan akan positif juga.
d.    Akseptasi. Konselor tidak menolok konseli dan menerima konseli apa adanya baik hal yang positif maupun negatif yang ada dalam dirinya.
Pandai membaca bahasa tubuh. Gerak-gerik tubuh selalu memberi arti, makna dan pesan tertentu. Ketrampilanmembaca perilaku nonverbal ini akan membantu konselor dapat menafsirkan dan memahami serta mengerti keadaan konseli.

e.    Mencari alternatif.
f.    Kreatif. Kreatif adalah memiliki kemampuan daya cipta. Mengembangkan hal yang ada menjadi sesuatu yang lebih baru lagi.
g.    Fleksibel. Fleksibel adalah keadaan yang lentur, sehingga mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Tujuan utamanya adalah sekuat tenaga dapat merangkul dan mendorong konseli terbuka dan mau bekerja sama menemukan solusi menyelesaikan problem konseli.
h.    Pantang menyerah. Konselor terus mencari cara-cara untuk membuka jalan bagi keterbukaan konseli. Semangat membara tidak pernah padam, karena Tuhan Yesus Kristus ada dalam hatinya.
   Mengahadapi yang membisu:
a.    Memahami Konseli.
“Saya memahami kesulitan Anda. Anda nampaknya sulit menceritakan masalah Anda kepada saya. Mungkin cukup bijak bila Anda tidak terburu-buru mengatakan hal tersebut kepada saya. Namun, bila Anda telah siap, katakan kepada saya, sehingga kita dapat mencari solusi yang baik dari masalah Anda.”
b.    Membuat alternatif
“Kalau Anda tidak mau bicara, saya senang kalau Anda bersedia memberi jawaban dengan menggangukkan kepala atau menggelengkan kepala.”
c.    Kreatif
Minta kepada Konselor Agung agar diberi ilham dan inspirasi bagaimana cara menolong konseli yang membisu. Sebab itu, dalam proses konseling, jangan lupa ada doa pribadi terlebih dahulu.
d.    Tidak menekan
“Mungkin ada hal yang sukar anda sampaikan kepada saya. Tetapi, bila Anda telah merasa aman, nyaman, dan percaya kepada saya, barulah Anda menceritakan kepada saya. Kalau belum, memang sebaiknya anda jangan mengatakan pada saya. Anda setuju itu?
e.    Lain waktu
“Anda nampaknya benar-benar belum mampu membicarakan masalah pribadi Anda dengan saya. Saya sangat memahami kesulitan Anda. Oleh karena itu, saya sangat senang kalau kita belum memebicarakannya sekarang, kalau  Anda belum siap. Bagaimana kalau kita membicarakannya lain wakt, ketika Anda sudah benar-benar siap? Kalau Anda sudah siap, saya mohon anda mengatakan hal itu kepada saya. Anda setuju?
    Menghadapi yang Menolak/Menghindar
a.    Memahami Konseli
b.    Buat janji
c.    Cari pihak ketiga
d.    Alihkan perhatian

   Menangani Konseli yang Menutup Diri Menurut Kottler:
1.    Tetap tenang
2.    Lebih cerdik, krearif, dan luwes
3.    Tetap sabar
4.    Menghargai pendapat konseli yang bersikap menolak
5.    Waspada dan hindari jebakan-jebakan untuk menghambat
6.    Tetap memberi perhatian dan menerima tanpa menyetujui
7.    Bantulah konseli melihat motif sikap tertutup
8.    Yakinkan konseli bahwa sikap tertutup itu wajar sesuai kondisinya.
9.    Laksanakan peran dan tangung jawab konselor dalam situasi itu.

KOMENTAR:
Dari pembahasan diatas yang dapat penulis aplikasikan menjadi tips untuk dapat membuka file     tersembunyi adalah:
1.    Bangun persahabatan terlebih dahalu. Ciptakan rasa aman, nyaman dan konseli tidak merasa terancam itu sangat penting untuk melakukan pendekatan dengan konseli dari perasaan-perasaan takut, cemas, ragu-ragu,dll.
2.    Belajar untuk memahami konseli dengan cara berempati.
3.    Belajar untuk memahami dan mendengarkan apa yang dikatakan baik dalam bahasa verbal maupun nonverbal dengan penuh perhatian.
4.    Belajar untuk tidak menekan konseli dan memberikan komentar yang melemahkan konseli, menghargai setiap keputusan yang diambil oleh konseli.
5.    Konselor harus kreatif, tidak terpaku pada model-model, pola-pola, tahap-tahap, langkah-langkah, dan prisip-prinsip yang sudah ada. Minta inspirasi dan ilham dari Konselor Agung.




Membuka File yang Tersembunyi Atau
Menghadapi Konseli yang Menutup Diri
(BK DEWASA)

I.    INTI BUKU

Bentuk Sikap Menutup Diri
1.    Menghindar
2.    Menbisu
3.    Tidak serius
4.    Mengalihkan Fokus Percakapan
5.    Mendebat
6.    Bicara Berlebihan
7.    Menyepelekan

Penyebab Konseli Menutup Diri
1.    Perasaan Takut
2.    Perasaan Cemas
3.    Ragu-ragu pada Konselor
4.    Melindungi Diri
5.    Tidak Tahu Apa yan Akan Terjadi
6.    Bingung
   Cara Menangani Konseli yang Menutup Diri
1.    Pendekatan Umum
a.    Bersahabat. Sahabat yagn baik adalah sahabat yang mau memahami dan mengerti sahabatnya, bahkan sahabat sejati adalah sahabat yang setia dalam suka dan duka dan mau memebela dan berjuang demi sahabatnya.
b.    Empati. Empati terhadap konseli berarti konselor berupaya sekuatnya untuk berada dan berdiri di tempat di mana konseli berada. Sikap berempati akan menyakinkan konseli bahwa konselor tidak main-main dan setengah hati. Tetapi konselor akan bersungguh-sungguh mau mengerti, memahani dan akan menolong serta mendampinginya. Ia tidak akan ditinggal sendirian.
c.    Melihat hal positif. Sebab dengan kacamata negatif, pandangan ke depan akan negatif. Sebaliknya, bila pikiran positif, pandangan akan positif juga.
d.    Akseptasi. Konselor tidak menolok konseli dan menerima konseli apa adanya baik hal yang positif maupun negatif yang ada dalam dirinya.
Pandai membaca bahasa tubuh. Gerak-gerik tubuh selalu memberi arti, makna dan pesan tertentu. Ketrampilanmembaca perilaku nonverbal ini akan membantu konselor dapat menafsirkan dan memahami serta mengerti keadaan konseli.

e.    Mencari alternatif.
f.    Kreatif. Kreatif adalah memiliki kemampuan daya cipta. Mengembangkan hal yang ada menjadi sesuatu yang lebih baru lagi.
g.    Fleksibel. Fleksibel adalah keadaan yang lentur, sehingga mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Tujuan utamanya adalah sekuat tenaga dapat merangkul dan mendorong konseli terbuka dan mau bekerja sama menemukan solusi menyelesaikan problem konseli.
h.    Pantang menyerah. Konselor terus mencari cara-cara untuk membuka jalan bagi keterbukaan konseli. Semangat membara tidak pernah padam, karena Tuhan Yesus Kristus ada dalam hatinya.
   Mengahadapi yang membisu:
a.    Memahami Konseli.
“Saya memahami kesulitan Anda. Anda nampaknya sulit menceritakan masalah Anda kepada saya. Mungkin cukup bijak bila Anda tidak terburu-buru mengatakan hal tersebut kepada saya. Namun, bila Anda telah siap, katakan kepada saya, sehingga kita dapat mencari solusi yang baik dari masalah Anda.”
b.    Membuat alternatif
“Kalau Anda tidak mau bicara, saya senang kalau Anda bersedia memberi jawaban dengan menggangukkan kepala atau menggelengkan kepala.”
c.    Kreatif
Minta kepada Konselor Agung agar diberi ilham dan inspirasi bagaimana cara menolong konseli yang membisu. Sebab itu, dalam proses konseling, jangan lupa ada doa pribadi terlebih dahulu.
d.    Tidak menekan
“Mungkin ada hal yang sukar anda sampaikan kepada saya. Tetapi, bila Anda telah merasa aman, nyaman, dan percaya kepada saya, barulah Anda menceritakan kepada saya. Kalau belum, memang sebaiknya anda jangan mengatakan pada saya. Anda setuju itu?
e.    Lain waktu
“Anda nampaknya benar-benar belum mampu membicarakan masalah pribadi Anda dengan saya. Saya sangat memahami kesulitan Anda. Oleh karena itu, saya sangat senang kalau kita belum memebicarakannya sekarang, kalau  Anda belum siap. Bagaimana kalau kita membicarakannya lain wakt, ketika Anda sudah benar-benar siap? Kalau Anda sudah siap, saya mohon anda mengatakan hal itu kepada saya. Anda setuju?
    Menghadapi yang Menolak/Menghindar
a.    Memahami Konseli
b.    Buat janji
c.    Cari pihak ketiga
d.    Alihkan perhatian

   Menangani Konseli yang Menutup Diri Menurut Kottler:
1.    Tetap tenang
2.    Lebih cerdik, krearif, dan luwes
3.    Tetap sabar
4.    Menghargai pendapat konseli yang bersikap menolak
5.    Waspada dan hindari jebakan-jebakan untuk menghambat
6.    Tetap memberi perhatian dan menerima tanpa menyetujui
7.    Bantulah konseli melihat motif sikap tertutup
8.    Yakinkan konseli bahwa sikap tertutup itu wajar sesuai kondisinya.
9.    Laksanakan peran dan tangung jawab konselor dalam situasi itu.

KOMENTAR:
Dari pembahasan diatas yang dapat penulis aplikasikan menjadi tips untuk dapat membuka file     tersembunyi adalah:
1.    Bangun persahabatan terlebih dahalu. Ciptakan rasa aman, nyaman dan konseli tidak merasa terancam itu sangat penting untuk melakukan pendekatan dengan konseli dari perasaan-perasaan takut, cemas, ragu-ragu,dll.
2.    Belajar untuk memahami konseli dengan cara berempati.
3.    Belajar untuk memahami dan mendengarkan apa yang dikatakan baik dalam bahasa verbal maupun nonverbal dengan penuh perhatian.
4.    Belajar untuk tidak menekan konseli dan memberikan komentar yang melemahkan konseli, menghargai setiap keputusan yang diambil oleh konseli.
5.    Konselor harus kreatif, tidak terpaku pada model-model, pola-pola, tahap-tahap, langkah-langkah, dan prisip-prinsip yang sudah ada. Minta inspirasi dan ilham dari Konselor Agung.




BIMBINGAN KONSELING-Ketrampilan Mendengarkan

 Ketrampilan Mendengarkan


I.    DATA BUKU:

Judul Buku        : Dasar-dasar Konseling 
              Pastoral
Penulis            : Tukus Tu’u, S. Th, M.Pd
Penerbit        : ANDI
Tempat  Terbit    : Yogyakarta
Tahun Terbit        : 2007
Buku Yang Dibaca    : Hal 97-114,131-143
Membaca Tanggal    : 23, 29 September 2012
II.    INTI BUKU
Ketrampilan Mendengarkan
Mendengarkan terjadi melalui proses mendengar, menyimak, memerhatikan, memahami, dan mengerti. Dalam mendengrkan, pendengar menyimak dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Seluruh ucapan, kalimat, dan kata-kata mendapatperhatian penuh. Makna yang tersirat dibalik semua itu diupayakan untuk dipahami dan dimengerti dengan baik.
Seiring ungkapan verbal tersebut, bahasa nonverbal juga mendapat perhatian. Sebab kata-kata verbal kadang-kadang diperkuat oleh yang nonverbal. Bisa jadi dalam bahasa verbal tidak nampak adanya sesuatu yang mau dikatakan atau yang mau ditutupi. Tetapi oleh bahasa nonverbal, pendengar yang baik dapat menangkap ada sesuatu yang masih belum dikatakan. Sebab itu, yang nonverbal biasanya lebih jujur daripada yang verbal. Dengan memerhatikan kedua aspek tersebut, diharapkan pendengar dapat memahami apa yang sesungguhnya mau dikatakan.

Macam-macam Mendengarkan:
1.    Bukan Pendengar, adalah orang yang tidak berminat untuk mendengarkan orang yang mau bicara dengannya.
2.    Pendengar Dangkal, adalah orang yang sudah mendengar apa yang diucapkan, tetapi belum paham benar apa yang dibicarakan.
3.    Pendengar Evaluatif, sudah masuk cukup jauh dalam percakapan.,seluruh percakapan mendapat respon logis dan rasional.
4.    Pendengar Kritis, kritis adalah bersifat tidak lekas percaya. Orang seperti ini selalu bertanya, “ Apakah ini logis atau rasional ? Apakah ini benar dan dapat dipercaya ?” Biasanya tipe pendengar seperti ini tidak mau asal cerita dan asal percaya.
5.    Pendengar Aktif, adalah pendengar yang proaktif. Ia banyak berinisiatif dalam komunikasi, namun tidak berarti ia mendominasi percakapan. Dengan kata lain, sudah mulai tumbuh sikap empati dari pendengar.

Hambatan Mendengar:
1.    Motivasi dan Sikap
2.    Kurang Perhatian
3.    Salah Pergertian
4.    Pengalaman dan Latar Belakang
5.    Berburuk Sangka
6.    Melamun
7.    Keasyikan
8.    Pura-pura Mendengar
9.    Terlalu Banyak Bicara
10.    Ucapan yang Samar-samar
11.    Terburu-buru
12.    Banyak Nasihat
13.    Kurang Cakap Mendengarkan

Pendengar Efektif:
1.    Tatapan Wajahnya
2.    Tunjukkan Minat
3.    Perhatian
4.    Memahami
5.     Menerima
6.    Empati
7.    Lihat Bahasa Tubuh






Pendengar yang Baik Menurut Keith Davis:
1.    Berhenti berbicara pada waktu orang lain bicara.
2.    Mengusahakan agar orang yang berbicara dapat bersikap tenang.
3.    Menunjukkan bahwa kita ingin mendengarkannya.
4.    Menyingkirkan gangguan.
5.    Menyelami dan mengerti keadaan lawan.
6.    Sabar, tenang dan ramah.
7.    Mampu mengendalikan temperamen.
8.    Bersikap tenang pada sewaktu mendengar kritik-kritik.
9.    Mengajukan pertanyaan-pertanyaan jika kurang mengerti pokok permasalahan.

Memahami Bahasa Nonverbal

 Fungsi bahasa Nonverbal adalah:
1.    Mengulangi yang verbal
2.    Melengkapi yang verbal
3.    Bertentangan dengan verbal
4.    Merngganti yang verbal

 Mendengarkan Suara Konseli lewat:
1.    Memahami Nada Suara
2.    Membaca Emosi Lewat Suara
3.    Memahami Macam-macam Suara:
    Resonance (gema)
    Rhytm (irama)
    Speed (kecepatan)
    Picth (ketinggian)
    Volume (besar)
    Inflection (naik-turun)
    Clarity (pengucapan/pengejaan kata-kata)





Membaca Gerak-Gerik Tubuh Konsele
1.    Berbicara dengan tangan
2.    Berbicara dengan kepala
3.    Berbicara dengan mimik wajah
4.    Berbicara dengan mata
5.    Berbicara dengan gerak-gerik, ucapan dan suara

III.    KOMENTAR

Dalam konseling keterampilan untuk dapat mendengarkan akan sangat diperlukan. Ketika konsele datang dengan segala problematika dan masalah yang sedang konsele hadapi yang pertama kali perlu kita lakukan adalah mendengarkan setiap keluhan konsele dengan baik. Tidak hanya mendengarkan secara verbal tetapi erlu juga konselor memerhatikan bahasa nonverbal dari konsele. Sebab yang nonverbal lebih berbicara daripada yang verbal.
 Konselor yang baik akan mendengarkan dengan penuh perhatian dan menjadi pendengar yang aktif, sehingga konselor juga merasakan apa yang dihadapai oleh konselenya. Konselor harus menghindari hambatan yang selama ini terjadi ketika mendengarkan dan perlu meningkatkan ketrampilan mendengar dengan efektif sehingga proses konseling dapat berjalan dengan baik.
Setelah menganalisis dari tipe-tipe pendengar di atas, penulis adalah termasuk dalam tipe pendengar kritis. Penulis perlu belajar meningkatkan ketrampilan mendengarkan sehingga dapat menjadi pendengar yang aktif dan efektif. Oleh sebab itu penulis perlu meningkatkan juga motivasi dalam diri penulis untuk dapat mendengarkan dengan penuh perhatian. Belajar dari Yakobus 1:19!!!
“ BAHASA NONVERBAL LEBIH BERBICARA DARI PADA BAHASA VERBAL”

BIMBINGAN KONSELING-Inferiority

 Inferiority  (RENDAH DIRI)

I.    DATA BUKU:

Judul Buku        : Pastoral Konseling
Penulis            : Yakub B. Susabda
Penerbit        : Gandum Mas
Tempat  Terbit    : Malang
Tahun Terbit        : 1996 (Cetakan kelima)
Buku Yang Dibaca    : Hal 48-61
Membaca Tanggal    : 23 September 2012
II    INTI BUKU:
Inferiority adalah keadaan emosi yang dialami oleh orang karena berbagai sebab, yang mengakibatkan munculnya berbagai perasaan yang negatif seperti kegelisahan, insecure (tidak aman), inadequacy (tidak mampu), takut gagal, dsb.
 Inferiority ada dua yaitu inferiority complex dan inferiority feelings. Inferiority complex adalah suatu tingkah laku yang sebenarnya merupakan perwujudan dari alam ketidak-sadaran. Sedangkan inferiority feelings yaitu ada alasan-alasan rationil kenapa seorang merasa inferior.
Tanda-tanda inferiority yang nyata misalnya: keringat dingin, gemetaran, kata-kata yang terputus-putus , tidak berani bicara, dsb. Tanda-tanda inferiority yang tersembunyi, misalnya: selalu bepakaian bagus (tanpa itu ia merasa kurang diterima), selalu memberikan sanggahan-sanggahan dalam pembicaraan (takut dianggap tidak tahu apa-apa), mencari kesibukan di tengah pertemuan-pertemuan (untuk mendapatkan persaan aman dan dibutuhkan), dsb.
Penyebab inferiority:
1.    Realita inferior non primer (kenyataan inferior dalam hal-hal yang tidak primer)
2.    Realita inferior primer
3.    Poor self-image (pengenalan yang buruk terhadap dirinya sendiri)
    Sikap lingkungan yang cenderungselalu mengecilkan dirinya.
    Sikap lingkungan yang menuntut lebih dari kemampuannya.
4.    Kegagalan berkali-kali
5.    Sebab-sebab lain:
•    Standar dari kelompok mayoritas
•    Over-protection (perlindungan yang berlebihan)


Aspek-aspek yang unik dari inferiority:
Kadang-kadang inferiority menggejala dalam tingkah laku yang merugikan seperti iri hati, kemarahan, kebencian, persaingan, dsb; kadang-kadang menggejala dalam tingkah laku yang positif seperti misalnya, kesabaran mendengar, kerelaan bekerja, dsb. Tetapi tidak jarang orang justru menikmati dan memanfaatkan inferioritynya.

Cara mengatasi inferiority:
a.    Melawannya dengan cara yang tidak sehat;
     Kadang-kadang orang mencoba mengatasi inferioritynya dengan menyembunyikan perasaan insecuritynya dan terus menerus mencoba mematikan perasaan bahwa dirinya inferior.
     Kadang-kadang orang memilih lari ke dalam psyhosomatic reaction, dimana inferioritynya mengambil bentuk sakit perut, astma, sakit kepala, dsb.
     Kadang-kadang orang mencoba mengatasinya dengan menceritakan inferioritynya secara terus-menerus.
     Kadang-kadang orang mencoba mengatasinya dengan mengembangkan ‘critical spirit’
b.    Melawan dengan cara yang sehat.
    Mengenali dan menghargai anugerah/ talenta yang Allah berikan. Inferiority muncul oleh karena:
    Orang tidak mengenali akan anugerah dan kelebihan yang Allah berikan.
    Orang tidak menghargai anugerah/talenta yan Allah berikan.
    Mengubah self-concept yang buruk. Orang merasa inferiority disebabkan oleh karena ia memunyai self-concept yang buruk atau yang merugikan dirinya.
    Berjuang mengatasi sumber inferiority. Inferiority seringkali bisa diatasi jikalau orang yang bersangkutan benar-benar berjuang dan berhasil mengatasi sumbernya.
    Memerbaiki biblical-concept yang salah. Inferiority dan humbleness adalah dua hal yang berbeda. Inferiority adlah sikap emosi yang negatif yang menghasilkan tingkah laku yang merugikan. Sedangkan humbleness, adalah sikap emosi yang positif yang lahir dari pengakuan yang tulus bahwa segala sesuatu yang kita miliki diberikan sebagai anugerah Allah.
Yang diperlukan saat konseling:
1.    Understanding bahwa hampir setiap persoalan inferiority mengambil bentuk dalam persoalan-persoalan.
2.    Tanda-tanda dari inferiority tidak selalu menunjuk bahwa masalah konsele hanya masalah inferiority.
3.    Dinamika tingkah laku manusia begitu kompleks, kadang-kadang inferiority sudah menjadi unconscious phenomenon yang menggejala dalam macam-macam tingkah laku yang merugikan yang masing-masing seolah-olah merupakan masalah yang berdiri sendiri.
4.    Mendorong orang yang inferior untuk mengambil tindakan konkrit.




III     KOMENTAR:
Ada peribahasa yang mengatakan bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Kegagalan dapat menjadi guru yang dapat menolong kita menjadi pribadi yang lebih baik dan bjaksana. Akan tetapi, i yang terjadi kadangkala adalah sebaliknya, kegagalan menjadi suatu yang sangat menakutkan. Kerena dengan adanya kegagalan membuat seseorang tersebut merasa rendah diri. Perasaan rendah diri dapat menghalangi pertumbuhan dan tingkah laku yang kita kerjakan.
Inferiority dapat  dialami oleh semua orang dan dalam bidang apa pun. Jika kita melihat lebih luas lagi tentang bangsa Indonesia. Mungkin kita beranggapan kita adalah bangsa yang inferior dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang lain. Seperti Amerika, Cina, Jepang, Korea Selatan, dll yang menjadi bangsa superior. Dengan keberadaan bangsa Indonesia sebenarnya kita tidak perlu merasa inferior dibandingkan bangsa lain sebab bangsa Indonesiaa  adalah bangsa yang kaya akan SDA, budaya, dan kehidupan sosial yang beragam unik dan luar biasa. Pertanyaannya apa yang menyebabkan Indonesia merasa inferior bahkan kita juga merasa inferior  menjadi bagian dari bangsa Indonesia?
Belajar dari materi di atas untuk mengatasi masalah inferior, tentunya kita mengatasinya dengan menggunakan cara yang sehat. Mari sama-sama berjuang dan mengatasi sumbernya dan tentunya selalu sertakan Tuhan untuk menyelesaiakannya.

    



BIMBINGAN KONSELING-PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

I.    DATA BUKU:
Judul Buku        : Psikologi Untuk Membimbing
Penulis            : Dra. Ny. Y. Singgih D. Gunarsa
              Dr. Singgih D. Gunarsa
Penerbit        : PT. BPK Gunung Mulia
Tempat  Terbit    : Jakarta Pusat
Tahun Terbit        : 1982 (Cetakan ketiga)
Buku Yang Dibaca    : Hal 86-101, 127-135
Membaca Tanggal    : 04 September 2012

II.    INTI BUKU:
BAB VII PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Kepribadian adalah kebutuhan-kebutuhan dan kebiasaan-kebiasaan dalam cara memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut, dapat dilihat oleh orang lain. Kepribadian sering digambarkan sebagai pola keseluruhan tingkahlaku seseorang pada setiap tahap perkembangannya. Keribadian dapat dikatakan mencakup semua aspek perkembangan, seperti perkembanagan fisik, motorik, mental, sosial, moral, akan tetapi melebihi penjumlahan semua aspek-aspek perkembanagn tersebut. Kepribadian menyebabkan adanya kesatuan dalam tingkahlaku dan tindakan seseorang. Ini disebut dengan integrasi, integrasi dari pola-pola kepribadian yang dibentuk oleh seseorang.
Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kepribadian dapat dibagi dalam 2 kelompok yaitu:
A.    Faktor-faktor yang terdapat dalam diri anak sendiri, antara lain:
1.    Faktor-faktor berhubungan dengan konstitusi tubuh.
Seperti: keadaan fisik anak, keadaan fisiologis, ketangkasan motorik, keadaan mental dan emosionalitas seseorang mempengaruhi sifat-sifat dan tingkahlakunya.
2.    Struktur tubuh dan keadaan fisik
3.    Koordinasi motorik
Anak yang lebih lemah dari rata-rata dan yang koordinasi motoriknya kurang dari rata-rata, akan bersifat malu, takut atau mengalami frustrasi.
4.    Kemampuan mental dan bakat khusus, seperti:
     Intelegensi yang tinggi
     Hambatan mental
     Bakat khusus
5.    Emosionalitas
Reaksi emosionalitas erat bertalian dengan pola kelakuan lainnya yang sedang berkembang. Interaksi, hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungannya, dipengaruhi oleh sifat emosionalnya.
B.    Pengaruh dari Lingkungan
1.    Rumah, rumah adalah lingkungan pertama yang berperan dalam pembentukan kepribadian. Sifat-sifat kepribadian di rumah yang dapat diterima, yaitu:
a.    Kesediaan orangtua menerima anak sebagai anggota keluarga yang berharga
b.    Pertengkaran dan perselisihan paham antar orantua supaya tidak terjadi dihadapan anak
c.    Adanya sikap demokratis yang memungkinkan setiap anggota keluarga mengikuti arah minatnya sendiri, sejauh tidak merugikan atau merintangi kesejahteraan orang lain, baik dalam lingkungan keluarga maupun di luar lingkungan keluarga
d.    Penyesuaian yang baik antara ayah dan ibu dalam pernikahan
e.    Keadaan ekonomis yang serasi
f.    Penerimaam (akseptasi) sosial para tetangga terhadap keluarga
2.    Sekolah, pengaruh sekolah dalam perkembangan kepribadian anak dapat dibagi dalam 3 kelompok yaitu:
a.     Kurikulum dan anak
     Kurikulum harus disesuaikan dengan keadaan perkembangan belajar anak
     Kurikulum harus mencakup ketrampilan, pengetahuan, sikap-sikap yang perlu dibentuk oleh anak dalam pengalamannya sekarang dan sesuai utnuk memenuhi kebutuhan pendidikan di kemudian hari
     Anak harus dibiasakan belajar dengan aktivitas sendiri dan bukan secara pasif mengharapkan “hasil kunyahan “ dari guru
     Perlu diusahakan supaya apa yang dipelajari oleh anak disesuaikan dengan minat dan keinginan anak, dan bukan semata-mata berdasarkan harapan dan cita-cita orangtua terhadap anak
b.    Hubungan guru dan murid
Melihat pentingnya peranan guru dalam perkembangan aspek intelek dan kepribadian anak, maka guru perlu menyadari kedudukan dan sikap-sikap maupun kepribadiannya. Lebih-lebih jika guru dianggap, dipilih sebagai tokoh identifikasi anak tersebut.
c.    Hubungan antar anak
Baik di sekolah maupun di luar sekolah kepribadian anak banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebayanya. Cara-cara yang memberikan keberhasilan dalam persaingan dalam hubungan dengan teman sekolah akan dipakainya dalam kompetisi.
C.    Pengaruh faktor-faktor lain
1.    Kebudayaan
2.    Nama panggilan di rumah
3.    Minat dan hobi
Model Transaksional







BAB X KEPRIBADIAN DAN PENYESUAIAN
Mekanisme pertahanan yang dipakai oleh seorang anak maupun orang dewasa dalam perkembangan ke arah pemantapan kepribadian dan dalam penyelesaian konflik sepanjang masa hidupnya yaitu:
1.    Kompensasi: tingkah laku konpensatoris dapat dilihat pada seorang anak apabila ia memakai energi berlebihan untuk membentuk sifat, perbuatan untuk meringankan ketegangan yang disebabkan oleh suatu kekurangan yang sungguh ada atau kekurangan yang dibayangkan dalam khayalan.
2.    Introyeksi: angan-angan, sikap-sikap, pendapat-pendapat, nilai sosial, nilai moral dan etis, maupun keyakinan agama diperoleh anak dari orang tua atau orang lain melalui proses introyeksi.
3.    Proyeksi: mekanisme pertahanan ini akan dipakai oleh seorang anak melalui usaha untuk menyalahkan orang lain sebagai sumber dari kegagalannya.
4.    Identifikasi: mekanisme pertahanan dalam bentuk identifikasi sering dipakai oleh seorang anak dengan jalan menyamakan dirinya dengan anak yang pandai atau menempatkan dirinya pada tempat anak tersebut.
5.    Rasioanalisasi: sebagai mekanisme pertahanan sering dipakai untuk mempertahankan harda diri dengan menipu diri.
6.    Mekanisme menjauhkan diri: dapat dibagi menjadi tiga yaitu malu, penolakan, dan kemunduran.

III.    KOMENTAR:
Ketika kita berhadapan langsung dengan anak atau orang lain hal pertama yang baik perlu kita pelajari dari diri anak atau orang tersebut adalah mengenai kepribadiannya. Cara kita menilai anak atau orang tersebut tergantung dengan bagaimana kita dapat mengenal kepribadian anak dan orang tersebut dengan baik.  Oleh sebab itu, menjadi pembelajaran yang baik bagi penulis untuk dapat memahami orang-orang disekitar penulis dari latar belakang kehidupan mereka terutama mengenai lingkungan tempat tinggal mereka dan bagaimana latar belakang kehidupannya. Sehingga, kita tidak akan heran dan akan bisa menerima keberadaan orang disekitar kita ketika kita dapat mengetahui dan memahami tentang latar belakang dari kepribadian mereka.
Jadi ketika kita dipercayakan untuk menjadi konselor pengenalan akan kepribadian dari konsele kita sangat penting, supaya kita tidak salah dalam cara menanganinya dan menolong mereka untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, konselor juga  tidak boleh terlalu cepat untuk membuat suatu kesimpulan mengenai kepribadian konsele, sehingga terkesan hanya menebak-nebak saja. Akan tetapi kita perlu kesabaran dan minta pimpinan Tuhan untuk membukakan sesuatu yang perlu kita pelajari dari konsele yang kita layani. Pengetahuan penting dalam hal ini untuk memahami kepribadian konsele, akan tetapi yang lebih penting adalah perlu adanya hikmat dan pimpinan Tuhan untuk dapat mengertahuinya. Dengan cara Tuhan juga, kita akan menolong konsele dari setiap hal yang dihadapinya.

BIMBINGAN KONSELING-PEMBIMBINGAN NOUTHETIS

PEMBIMBINGAN NOUTHETIS
I.    DATA BUKU:
Judul Buku        : Anda pun Boleh Membimbing
Penulis            : Dr. Jay E. Adams
Penerbit        : Gandum Mas
Tempat  Terbit        : Malang, Jatim
Tahun Terbit        : 1986 (cetakan ketiga)
Buku Yang Dibaca    : Hal 26-40
Membaca Tanggal    : 30 Agustus 2012

II.    INTI BUKU:

PEMBIMBINGAN NOUTHETIS
A.    Konfrontasi Nouthetis oleh Seluruh Gereja
Bentuk pelayanan Nouthetis, Alkitab dengan jelas melibatkan semua orang Kristen, bukan hanya pendeta saja. (Kolose 3:16). Menurut Paulus, semua orang Kristen harus mengajar dan saling berkonfrontasi secara nouthetis (menasehati=noutheteo) dalam Roma 15:14. Jadi fakta pertama: Aktifitas nouthetis adalah kegiatan dimana seluruh kaum Allah dapat mengambil bagian.
B.    Terutama Merupakan Pekerjaan Pendeta
Meskipun semua orang Kristen harus terlibat dalam konfrontasi ini, aktivitas nouthetis terutama merupakan ciri dari pekerjaan pendeta. Aktivitas itu merupakan bagian utama dalam pelayanan Paulus (Kolose 1:28). Pemberitaan tentang Kristus ini adalah konfrontasi terhadap setiap orang secara nouthetis. Jelas bahwa konfrontasi secara massal melalui khotbah merupakan bagian dari aktivitas nouthetis Paulus, tetapi ia juga terlibat dalam konfrontasi kepada pribadi-pribadi.
C.    Tiga Unsur dari Konfrontasi Nouthetis
Arti kata Nouthetis sebenarnya sukar untuk diterjemahkan, terjemahan yang umjum adalah menasehati, memperingati, dan mengajar. Tiga unusur tersebut adalah :
1.    Kata nouthetis dipakai bertalian dengan kata “didasko” (mengajar). Didasko tidak melibatkan si-pendengar, tetapi khusus menunjukkan akan aktivitas dari pengajar. Sedangkan kata “nouthetis” menunjukkan aktivitas pembimbing serta keterlibatan orang yang sedang dibimbing. Orang tersebut harus berubah tingkah lakunya. jadi pertama-tama yang dimaksud dengan “konfrontasi nouthestis” yaitu adanya sesuatu yang salah pada orang yang sedang dikonfrontasi, ada sesuatu yang Tuhan ingin ubah. Tujuan utama dari konfrontasi nouthetis adalah mencapai perubahan watak dan tingkah laku.
2.    Unsur kedua yang terkandung dalam konsep tersebut adalah persoalannya dibereskan secara verbal. Contoh kegiatan nouthetis ini dapat kita lihat pada waktu Natan mengkonfrontasi Raja Daud tentang dosa Daud terhadap Uria dan Betsyeba. Contoh lain, pada waktu Yesus (sesudah bangkit) memulihkan Petrus kepada panggilan-Nya. Kegagalan konfrontasi nouthetisdapat dilihat dalam sikap imam Eli yang patut disesalkan (1 Samuel 3:13). Penekanan terhadap kata “mengapa” menunjukkan kegagalan Eli. Banyak waktu yang akan terbuang dengan bertanya “mengapa”. Eli akan lebih berhasil bila mengatakan “apa”.  “Apa” akan mengarah pada suatu pernyeleseaian. Jadi corak kedua dalam bimbingan nouthetis adalah konfrontasi yang bersifat pribadi, yang diarahkan kepada penyelesuaian diri orang bimbingan itu dengan Alkitab.
3.    Unsur ketiga dalam konfrontasi nouthetis adalah tujuan untuk mengubah sesuatu yang merusak hidup orang yang dibimbing. Sasaranya adalah  menghadapi suatu rintangan dan mengatasinya secra verbal, bukan untuk menghukum melainkan untuk menolong. Nouthetis ini didasari oleh kasih dan pengertian yang penuh, dimana  orang tersebut dibimbing dan diperbaiki secara verbal, demi kebaikan dia sendiri dan sudah tentu demi kemuliaan Allah. (1 Korintus 4:14; Efesus 6:4; Kolose 3:21; 1 Tesalonika 3:15).
D.    Nouthetis dan Tujuan dari Alkitab
Kata nouthetis adalah sesuai dengan segala penjelasan rasul Paulus tentang tujuan dan pemaikaian Alkitab. (2 Timotius 3:16). Di sini terdapat tujuan yang sama seperti yang Paulus nyatakan dalam Kolose 1:28. Dalam surat kolose Paulus menjelaskan perlunya melakukan konfrontasi nouthetis supaya setiap orang dapat disempurnakan dihadapan Kristus (tujuan nouthetis). Pada II Timotius, Paulus menunjukkan bahwa Alkitab berguna untuk menyempurnakan orang yaitu suatu proses nouthetis (mengajar, menegur, memperbaiki dan melatih). Dapat disimpulkan bahwa konfrontasi nouthetis haruslah merupakan konfrontasi Alkitabiah. Singkatnya konfrontasi dengan mempergunakan prinsip-prinsip dan petunjuk-petunjuk dari Alkitab.
E.    Keterlibatan Nouthetis
Dalam Kisah Rasul pasal 20, perkataan Paulus tentang penggembalaan nouthetis yang “dengan tangisan”. Ini mengungkapkan satu hal dengan jelas, bahwa Paulus melibatkan diri dengan persoalan-persoalan orang-orang yang dibimbingnya. Keterlibatan dapat berbeda bukan saja dalam segi intensitas, tetapi juga dalam jenisnya. Keterlibatan Paulus mencakup dalam kedua-duanya. (2 Korintus 11:29; 3 Yohanes ayat 4).
F.    Kasih Merupakan Sasarannya
Sasaran terakhir dari khotbah dan bimbingan adalah kemuliaan Allah. Tetapi yang mendasari kemuliaan yang indah itu adalah kasih. Definisi “kasih” yang sederhana dari Alkitab adalah “pemenuhan hukum-hukum Allah”. Kasih adalah sikap yang bertanggung jawab. Tujuan pembimbingan nouthetis dinyatakan secara jelas dalam Alkitab adalah untuk membawa manusia mengasihi hukum Allah.
G.    Bimbingan yang Berkuasa
“Pengajaran yang berkuasa” memerlukan teknik nouthetis yang mengarahkan orang yang dibimbing. Pembimbing harus berusaha mengubah kebiasaan-kebiasaan yang penuh dosa sejak pengusiran manusia dari taman Eden. Yesus sendiri tidak bersembunyi di taman Getsemani atau lari dari salib. Pembimbingan nouthetis beralaskan penebusan. Oleh karena itu kuasanya dan tanggung jawabnya yang begitu besar berdasarkan pada kuasa Allah sendiri.
H.    Kegagalan dalam Pembimbingan Nouthetis
Hal kegagalan adalah kompleks sehingga sukar dianalisa. Bilamana seorang pembimbing gagal melaksanakan pelayanannya dengan baik, mungkin ia gagal membuka beberapa faktor dalam persoalan yang dihadapi, tetapi sering sukar mengetahui sebab kegagalan dengan tepat, karena setiap persoalan adalah cukup ruwet. Membicarakan kegagalan biasanya menimbulkan diskusi tentang keberhasilan. Keberhasilan berarti mencapai perubahan hidup yang Alkitabiah dibarengi dengan pengertian dari orang itu tentang bagaimana perubahan ini telah dicapai, dan bagaimana caranya mencegah kejatuhan kedalam pola-pola dosa yang sama pada masa mendatang, dan apa yang harus dilakukan kalaupun juga tetap jatuh juga.
I.    Beberapa Sebab Kegagalan
1.    Pembimbing terlalu bersimpati
2.    Pembimbing terlalu cepat mengambil keputusan
3.    Pembimbing melibatkan emosinya, tidak dapat berpikir jernih, karena membiarkan perasaan menguasai tindakan.
4.    Pembimbing terdorong untuk memerintah dan memaksakan pendapatnya, gagal membedakan kuasa Allah dan kebijaksanaannya sendiri.



J.    Persyaratan bagi Pembimbing
1.    Memunyai pengetahuan dan kebaikan, informasi dan sikap, kebenaran dan keinginan untuk menolong orang lain. Pembimbing yang mampu membimbing (Roma 15:14-15).
2.    Pembimbing nouthetis harus mengenal Alkibat dengan sedalam-dalamnya.
3.    Pembimbing yang berhikmat (Kolose 3:16; Amsal 1:7).
K.    Penerapan dalam Bimbingan Pastoral
Seorang pendeta yang berorientasi nouthetis akan cenderung bertindak terus terang kepada semua orang yang dilayaninya. Ia akan berusaha mencari kebaikan mereka demi kemuliaan Allah.

III.    KOMENTAR:
Perlu menerapkan pembimbingan nouthetis ini, karena pembimbingan ini sangat Alkitabiah. Berbeda cara yang dilakukan pembimbingan yang dilakukan oleh pembimbing profesional sekuler dengan cara pembimbingan nouthetis. Pembimbing Sekuler akan beranggapan jangan terlalu terlibat dengan orang-orang yang dibimbingnya. Kalau perlu orang yang dibimbing harus bersifat terbuka, tetapi pembimbing tidak boleh sampai diketahui pribadinya. Perlu belajar dari cara Paulus ketika dia melakukan pembimbingan yaitu dengan cara melibatkan diri dengan penuh perhatian kepada orang-orang yang dibimbingnya.
Dalam pembimbingan nouthetis perlu menggunakan hikmat Ilahi jadi pembimbing tidak bisa berdasarkan oleh pengertian atau kebijaksanaanya sendiri. Diperlukan kerelaan hati dan kesabaran untuk mendengar, sehingga pembimbing tidak cepat untuk mengambil keputusan yang bisa mengakibatkan kegagalan.
Penulis perlu berlajar banyak tentang pembimbingan nouthetis ini, sebab pembimbingan ini akan sangat menolong penulis untuk melakukan proses mentoring ketika melalukan konseling dengan mentee pondokan. Yang terpenting adalah mau menyediakan telinga untuk mau mendengarkan permasalahan yang dihadapadi oleh mentee dan keptusan yang diambil harus berdasarkan kebenaran Ilahi yaitu Firman Tuhan.

BIMBINGAN KONSELING-KONSELING KRISTEN YANG EFEKTIF

KONSELING KRISTEN YANG EFEKTIF
I.    DATA BUKU:
Judul Buku        : KONSELING KRISTEN YANG EFEKTIF
Penulis            : Dr. Gary R. Collins
Penerbit        : Seminari Alkitab Asia Tenggara
Tempat  Terbit        : Malang
Tahun Terbit        : 1989
Buku Yang Dibaca    : Hal 1-12
Membaca Tanggal    : 22 Agustus 2012

II.    INTI BUKU:

    Arti Konseling Kristen
Konseling adalah hubungan timbal balik antara dua individu, yaitu konselor yang berusaha menolong atau membimbing dan konsele yang membutuhkan pengertian untuk mengatasi persoalan yang dihadapinya. Dalam hal ini seorang konselor Kristen akan berusaha mengaplikasikan kebenaran firman Tuhan atas persoalan-persoalan hidup ini.

    Keunikan Konseling Kristen
Ada tiga alasan yaitu:
1.    Orang Kristen percaya bahwa Allah yang menciptakan langit, bumi serta segala isinya, dan menolong segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kuasa. (Ibrani 1:1-3)
2.    Konseling Kristen memunyai misi yang khusus yaitu memerkenalkan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi dan Penebus dosa dan memulai hidup baru yang dipimpin oleh Roh Kudus. Konselor Kristen tidak saja menuntut kemajuan rohani konsele, tetapi kehidupan rohani konselor sendiri harus mencerminkan suatu teladan dalam tingkah laku, perkataan, kasih, kesetiaan, dan dalamkesetiaan (1 Tim 4:12)
3.    Konseling Kristen memunyai metode yang unik yaitu berdasarkan dengan prinsip-prinsip Alkitab. Di samping itu konselor dapat berdoa dengan konsele, menguatkan hatinya melalui pembacaan firman Tuhan dan memerhatikan hal-hal rohani yang dpaat menolong pertumbuhan iman konsele.


    Misi, Amanat Agung dan Konseling Kristen
Orang-orang yang datang untuk minta bimbingan mengalami masalah yang kompleks, baik jasmani, gejala-gejala kejiwaan maupun kebutuhan rohani. Karena itu, jangan kita menekankan hal yang spiritual dan melupakan yang lain, yang juga harus diatasi; ataupun sebaliknya. Hukum utama (dalam Markus 12:30-31) dan Amanat Agung  (Matius 28:19-20), keduanya mengajarkan kepada kita untuk melihat atau memfokuskan diri pada seluruh keberadaan manusia dan kebutuhannya.

    Psikologi Sekuler dan Konseling Kristen
Dunia konseling dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
1.    Directive-approaches : Konselor dipandang sebagai seorang ahli yang dapat menganalisis persoalan, mengerti akan pemecahannya dan mampu mengkomunikasikan jalan keluar kepada konsele.
2.    Permessive-approaches : Konsele diberi kesempatan untuk mengatasi persoalnya sendiri, yaitu memberi kebebasan pada mereka untuk menggumulinya.
3.    Interactional-approaches : Konselor dan konsele mendiskusikan persoalan, dalam hubungan mereka yagn equal, sehingga keduanya dapat mengambil keputusan yang tepat.
Dalam konseling Kristen harus menggunakan cara dimana Kristus dipermuliakan dan sesuai dengan kebenaran Alkitab, namun juga jangan gegabah menuduh pendekatan yang dilakukan konselor atau teori lain sebagai hal yang sesat. Pemikiran yang kurang sensitif dan membanggakan teorinya sendiri, seringkali juga merupakan hambatan dalam konseling Kristen, merugikan konsele, dan tidak memuliakan Tuhan.

    Gereja dan Konseling Kristen
Gereja adalah tubuh Kristus, persekutuan orang percaya.  Tanda orang percaya dan menjadi murid-Nya adalah jikalau mereka saling mengasihi (Yohanes 13:35). Jadi tanggung jawab gereja yag paling utama adalah untuk menolong orang lain. Konseling adalah salah satu karunia khusus yag diberikan Tuhan kepada orang-orang percaya untuk membangun gereja dan menguatkan tiap individu. (Roma 12:8). Walaupun demikian, tetapi setiap orang Kristen memunyai tugas untuk menolong orang lain. (Galatia 6:1,2,10; Kolose 3:12-14). Jadi jelaslah, bahwa orang Kristen memunyai tugas utnuk pergi, menghibur dan melayani orang lain dengan kasih, dan konseling adalah salah satu jalan.
4.    KOMENTAR:

Dari apa yang sudah penulis pelajari, penulis mencoba untuk membandingakan antara Konseling Sekuler dengan Konseling Kristen. Perbedaannya antara lain:

No.    Konseling Sekuler    Konseling Kristen
1.    Tujuan dari konseling yaitu memperbaiki dan mengubah sikap    Tidak hanya memperbaiki dan mengubah sikap tetapi juga dibawa kepada pengenalan hidup yang sejati yaitu dengan memercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
2.    Proses konseling adalah pemulihan bagi jiwa konsele    Proses konseling adalah pemulihan secara holistik bagi konsele yaitu tidak hanya jiwa tetapi juga spiritualnya.
3.    Hanya orang tertentu yang bisa melakukan konseling kepada orang lain, karena membutuhkan orang yang ahli.    Setiap orang percaya diharapkan bisa melakukan proses konseling, sehingga bisa saling menolong satu dengan yang lain
4.    Konseling berdasarkan dengan ilmu jiwa    Konseling dilakukan berdasarkan dengan kebenaran Alkitab / firman Tuhan
5.    Konseling merupakan ilmu yang dipelajari    Konselinga adalah salah satu karunia khusus kepada orang-orang percaya untuk membangun gereja dan menguatkan tiap individu

Jadi dalam Konseling Kristen kita perlu belajar dari cara Tuhan Yesus dalam melakukan konseling. Sebagai konselor yang perlu diperhatikan adalah membawa konsele kita untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan membawa kehidupan rohani mereka untuk semakin dekat kepada Tuhan. Seorang Konselor Kristen adalah sebagai pelaku dari misi Allah dan juga Amanat Agung.

BIMBINGAN KONSELING- PROSES BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH

RH-Pengorbanan Cinta

PENGORBANAN CINTA
Kejadian 29:16-20
Nats:
Kidung Agung 8: 6
“Taruhlah aku seperti materai pada hatimu, seperti materai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api seperti nyala api Tuhan.”
Setiap kita ingin merasakan kasih sayang dari orang yang spesial dalam hidup kita bukan? Apalagi jika kita memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih khusus lagi yaitu pernikahan. Apa yang terjadi ketika suatu dasar pernikahan tidak dilandasi oleh rasa cinta. Pasti akan sangat rapuh dan mudah berpaling kepada orang lain. Dalam Kejadian 29: 16-20 menceritakan mengenai kisah cintanya Yakub kepada Rahel sehingga ia bersedia bekerja di rumah Laban selama 7 tahun. Hebatnya,  waktu 7 tahun itu dianggap Yakub hanya beberapa hari saja oleh Yakub.
Setelah itu, ia memohon kepada Laban untuk memberikan Rahel wanita yang dikasihinya untuk diambil sebagai istrinya. Akan tetapi yang dihadadi Yakub adalah perbeda dari apa yang diinginkan hatinya. Yakub merasa dibohongi oleh Laban. Padahal dia hanya cinta kepada Rahel bukan kepada Lea. Akan tetapi, memang adat Yahudi mengharuskan  anak sulunglah yang  harus menikah terlebih dahulu.  Akhirnya Yakub membuat perjanjian dengan Laban untuk bekerja selama 7 tahun lagi untuk Rahel menjadi miliknya.
Pelajaran yang dapat kita ambil dari dari kisah cinta  Yakub dan Rahel adalah arti dari pengorbanan. Yakub berani berkorban untuk mendapatkan cintanya. Seperti itu juga yang telah dilakukan Kristus Yesus kepada kita. Dia membuktikan cinta-Nya kepada kita melalui pengorbanannya dia atas kayu salib. Kita yang sebenarnya tidak layak untuk menerima kehidupan kekal, mendapatkan anugerah yang luar biasa yaitu pengampunan atas segala dosa-dosa kita. Cinta eros yang dimiliki Yakub membuat dia rela berkorban waktu 14 tahun bekerja dengan Laban. Sedangkan, Tuhan kita Yesus Kristus memiliki cinta agape, cinta yang walaupun kepada kita semua demi kita dapat mengalami pembebasan dan kemenangan daripada maut.
Mari belajar dari teladan Kristus Yesus, cinta-Nya mengubahkan kehidupan lama  kita dibaharui menjadi hidup yang dipenuhi dengan anugerah dan rahmat yang dari pada Allah saja. Jangan pernah menukar anugrah itu dengan cinta yang ditawarkan oleh dunia. Tetap teguh dan kuatkan hati kita sehingga cinta-Nya Tuhan semakin bertambah-tambah dalam kehidupan kita.



Kayu Salib adalah bukti cinta-Nya kepada kita semua. Supaya kita yang hina layak menerima penghidupan kekal dari Bapa.