Sikap Menutup Diri

I. DATA BUKU:
Judul Buku : Dasar-dasar Konseling
Pastoral
Penulis : Tukus Tu’u, S. Th, M.Pd
Penerbit : ANDI
Tempat Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2007
Buku Yang Dibaca: Hal 145-164
Membaca Tanggal: 22 Oktober 2012
I. INTI BUKU
Bentuk Sikap Menutup Diri
1. Menghindar
2. Menbisu
3. Tidak serius
4. Mengalihkan Fokus Percakapan
5. Mendebat
6. Bicara Berlebihan
7. Menyepelekan
Penyebab Konseli Menutup Diri
1. Perasaan Takut
2. Perasaan Cemas
3. Ragu-ragu pada Konselor
4. Melindungi Diri
5. Tidak Tahu Apa yan Akan Terjadi
6. Bingung
Membuka File yang Tersembunyi Atau
Menghadapi Konseli yang Menutup Diri
(BK DEWASA)
I. INTI BUKU
Bentuk Sikap Menutup Diri
1. Menghindar
2. Menbisu
3. Tidak serius
4. Mengalihkan Fokus Percakapan
5. Mendebat
6. Bicara Berlebihan
7. Menyepelekan
Penyebab Konseli Menutup Diri
1. Perasaan Takut
2. Perasaan Cemas
3. Ragu-ragu pada Konselor
4. Melindungi Diri
5. Tidak Tahu Apa yan Akan Terjadi
6. Bingung
Cara Menangani Konseli yang Menutup Diri
1. Pendekatan Umum
a. Bersahabat. Sahabat yagn baik adalah sahabat yang mau memahami dan mengerti sahabatnya, bahkan sahabat sejati adalah sahabat yang setia dalam suka dan duka dan mau memebela dan berjuang demi sahabatnya.
b. Empati. Empati terhadap konseli berarti konselor berupaya sekuatnya untuk berada dan berdiri di tempat di mana konseli berada. Sikap berempati akan menyakinkan konseli bahwa konselor tidak main-main dan setengah hati. Tetapi konselor akan bersungguh-sungguh mau mengerti, memahani dan akan menolong serta mendampinginya. Ia tidak akan ditinggal sendirian.
c. Melihat hal positif. Sebab dengan kacamata negatif, pandangan ke depan akan negatif. Sebaliknya, bila pikiran positif, pandangan akan positif juga.
d. Akseptasi. Konselor tidak menolok konseli dan menerima konseli apa adanya baik hal yang positif maupun negatif yang ada dalam dirinya.
Pandai membaca bahasa tubuh. Gerak-gerik tubuh selalu memberi arti, makna dan pesan tertentu. Ketrampilanmembaca perilaku nonverbal ini akan membantu konselor dapat menafsirkan dan memahami serta mengerti keadaan konseli.
e. Mencari alternatif.
f. Kreatif. Kreatif adalah memiliki kemampuan daya cipta. Mengembangkan hal yang ada menjadi sesuatu yang lebih baru lagi.
g. Fleksibel. Fleksibel adalah keadaan yang lentur, sehingga mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Tujuan utamanya adalah sekuat tenaga dapat merangkul dan mendorong konseli terbuka dan mau bekerja sama menemukan solusi menyelesaikan problem konseli.
h. Pantang menyerah. Konselor terus mencari cara-cara untuk membuka jalan bagi keterbukaan konseli. Semangat membara tidak pernah padam, karena Tuhan Yesus Kristus ada dalam hatinya.
Mengahadapi yang membisu:
a. Memahami Konseli.
“Saya memahami kesulitan Anda. Anda nampaknya sulit menceritakan masalah Anda kepada saya. Mungkin cukup bijak bila Anda tidak terburu-buru mengatakan hal tersebut kepada saya. Namun, bila Anda telah siap, katakan kepada saya, sehingga kita dapat mencari solusi yang baik dari masalah Anda.”
b. Membuat alternatif
“Kalau Anda tidak mau bicara, saya senang kalau Anda bersedia memberi jawaban dengan menggangukkan kepala atau menggelengkan kepala.”
c. Kreatif
Minta kepada Konselor Agung agar diberi ilham dan inspirasi bagaimana cara menolong konseli yang membisu. Sebab itu, dalam proses konseling, jangan lupa ada doa pribadi terlebih dahulu.
d. Tidak menekan
“Mungkin ada hal yang sukar anda sampaikan kepada saya. Tetapi, bila Anda telah merasa aman, nyaman, dan percaya kepada saya, barulah Anda menceritakan kepada saya. Kalau belum, memang sebaiknya anda jangan mengatakan pada saya. Anda setuju itu?
e. Lain waktu
“Anda nampaknya benar-benar belum mampu membicarakan masalah pribadi Anda dengan saya. Saya sangat memahami kesulitan Anda. Oleh karena itu, saya sangat senang kalau kita belum memebicarakannya sekarang, kalau Anda belum siap. Bagaimana kalau kita membicarakannya lain wakt, ketika Anda sudah benar-benar siap? Kalau Anda sudah siap, saya mohon anda mengatakan hal itu kepada saya. Anda setuju?
Menghadapi yang Menolak/Menghindar
a. Memahami Konseli
b. Buat janji
c. Cari pihak ketiga
d. Alihkan perhatian
Menangani Konseli yang Menutup Diri Menurut Kottler:
1. Tetap tenang
2. Lebih cerdik, krearif, dan luwes
3. Tetap sabar
4. Menghargai pendapat konseli yang bersikap menolak
5. Waspada dan hindari jebakan-jebakan untuk menghambat
6. Tetap memberi perhatian dan menerima tanpa menyetujui
7. Bantulah konseli melihat motif sikap tertutup
8. Yakinkan konseli bahwa sikap tertutup itu wajar sesuai kondisinya.
9. Laksanakan peran dan tangung jawab konselor dalam situasi itu.
KOMENTAR:
Dari pembahasan diatas yang dapat penulis aplikasikan menjadi tips untuk dapat membuka file tersembunyi adalah:
1. Bangun persahabatan terlebih dahalu. Ciptakan rasa aman, nyaman dan konseli tidak merasa terancam itu sangat penting untuk melakukan pendekatan dengan konseli dari perasaan-perasaan takut, cemas, ragu-ragu,dll.
2. Belajar untuk memahami konseli dengan cara berempati.
3. Belajar untuk memahami dan mendengarkan apa yang dikatakan baik dalam bahasa verbal maupun nonverbal dengan penuh perhatian.
4. Belajar untuk tidak menekan konseli dan memberikan komentar yang melemahkan konseli, menghargai setiap keputusan yang diambil oleh konseli.
5. Konselor harus kreatif, tidak terpaku pada model-model, pola-pola, tahap-tahap, langkah-langkah, dan prisip-prinsip yang sudah ada. Minta inspirasi dan ilham dari Konselor Agung.
Membuka File yang Tersembunyi Atau
Menghadapi Konseli yang Menutup Diri
(BK DEWASA)
I. INTI BUKU
Bentuk Sikap Menutup Diri
1. Menghindar
2. Menbisu
3. Tidak serius
4. Mengalihkan Fokus Percakapan
5. Mendebat
6. Bicara Berlebihan
7. Menyepelekan
Penyebab Konseli Menutup Diri
1. Perasaan Takut
2. Perasaan Cemas
3. Ragu-ragu pada Konselor
4. Melindungi Diri
5. Tidak Tahu Apa yan Akan Terjadi
6. Bingung
Cara Menangani Konseli yang Menutup Diri
1. Pendekatan Umum
a. Bersahabat. Sahabat yagn baik adalah sahabat yang mau memahami dan mengerti sahabatnya, bahkan sahabat sejati adalah sahabat yang setia dalam suka dan duka dan mau memebela dan berjuang demi sahabatnya.
b. Empati. Empati terhadap konseli berarti konselor berupaya sekuatnya untuk berada dan berdiri di tempat di mana konseli berada. Sikap berempati akan menyakinkan konseli bahwa konselor tidak main-main dan setengah hati. Tetapi konselor akan bersungguh-sungguh mau mengerti, memahani dan akan menolong serta mendampinginya. Ia tidak akan ditinggal sendirian.
c. Melihat hal positif. Sebab dengan kacamata negatif, pandangan ke depan akan negatif. Sebaliknya, bila pikiran positif, pandangan akan positif juga.
d. Akseptasi. Konselor tidak menolok konseli dan menerima konseli apa adanya baik hal yang positif maupun negatif yang ada dalam dirinya.
Pandai membaca bahasa tubuh. Gerak-gerik tubuh selalu memberi arti, makna dan pesan tertentu. Ketrampilanmembaca perilaku nonverbal ini akan membantu konselor dapat menafsirkan dan memahami serta mengerti keadaan konseli.
e. Mencari alternatif.
f. Kreatif. Kreatif adalah memiliki kemampuan daya cipta. Mengembangkan hal yang ada menjadi sesuatu yang lebih baru lagi.
g. Fleksibel. Fleksibel adalah keadaan yang lentur, sehingga mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Tujuan utamanya adalah sekuat tenaga dapat merangkul dan mendorong konseli terbuka dan mau bekerja sama menemukan solusi menyelesaikan problem konseli.
h. Pantang menyerah. Konselor terus mencari cara-cara untuk membuka jalan bagi keterbukaan konseli. Semangat membara tidak pernah padam, karena Tuhan Yesus Kristus ada dalam hatinya.
Mengahadapi yang membisu:
a. Memahami Konseli.
“Saya memahami kesulitan Anda. Anda nampaknya sulit menceritakan masalah Anda kepada saya. Mungkin cukup bijak bila Anda tidak terburu-buru mengatakan hal tersebut kepada saya. Namun, bila Anda telah siap, katakan kepada saya, sehingga kita dapat mencari solusi yang baik dari masalah Anda.”
b. Membuat alternatif
“Kalau Anda tidak mau bicara, saya senang kalau Anda bersedia memberi jawaban dengan menggangukkan kepala atau menggelengkan kepala.”
c. Kreatif
Minta kepada Konselor Agung agar diberi ilham dan inspirasi bagaimana cara menolong konseli yang membisu. Sebab itu, dalam proses konseling, jangan lupa ada doa pribadi terlebih dahulu.
d. Tidak menekan
“Mungkin ada hal yang sukar anda sampaikan kepada saya. Tetapi, bila Anda telah merasa aman, nyaman, dan percaya kepada saya, barulah Anda menceritakan kepada saya. Kalau belum, memang sebaiknya anda jangan mengatakan pada saya. Anda setuju itu?
e. Lain waktu
“Anda nampaknya benar-benar belum mampu membicarakan masalah pribadi Anda dengan saya. Saya sangat memahami kesulitan Anda. Oleh karena itu, saya sangat senang kalau kita belum memebicarakannya sekarang, kalau Anda belum siap. Bagaimana kalau kita membicarakannya lain wakt, ketika Anda sudah benar-benar siap? Kalau Anda sudah siap, saya mohon anda mengatakan hal itu kepada saya. Anda setuju?
Menghadapi yang Menolak/Menghindar
a. Memahami Konseli
b. Buat janji
c. Cari pihak ketiga
d. Alihkan perhatian
Menangani Konseli yang Menutup Diri Menurut Kottler:
1. Tetap tenang
2. Lebih cerdik, krearif, dan luwes
3. Tetap sabar
4. Menghargai pendapat konseli yang bersikap menolak
5. Waspada dan hindari jebakan-jebakan untuk menghambat
6. Tetap memberi perhatian dan menerima tanpa menyetujui
7. Bantulah konseli melihat motif sikap tertutup
8. Yakinkan konseli bahwa sikap tertutup itu wajar sesuai kondisinya.
9. Laksanakan peran dan tangung jawab konselor dalam situasi itu.
KOMENTAR:
Dari pembahasan diatas yang dapat penulis aplikasikan menjadi tips untuk dapat membuka file tersembunyi adalah:
1. Bangun persahabatan terlebih dahalu. Ciptakan rasa aman, nyaman dan konseli tidak merasa terancam itu sangat penting untuk melakukan pendekatan dengan konseli dari perasaan-perasaan takut, cemas, ragu-ragu,dll.
2. Belajar untuk memahami konseli dengan cara berempati.
3. Belajar untuk memahami dan mendengarkan apa yang dikatakan baik dalam bahasa verbal maupun nonverbal dengan penuh perhatian.
4. Belajar untuk tidak menekan konseli dan memberikan komentar yang melemahkan konseli, menghargai setiap keputusan yang diambil oleh konseli.
5. Konselor harus kreatif, tidak terpaku pada model-model, pola-pola, tahap-tahap, langkah-langkah, dan prisip-prinsip yang sudah ada. Minta inspirasi dan ilham dari Konselor Agung.
Membuka File yang Tersembunyi Atau
Menghadapi Konseli yang Menutup Diri
(BK DEWASA)
I. INTI BUKU
Bentuk Sikap Menutup Diri
1. Menghindar
2. Menbisu
3. Tidak serius
4. Mengalihkan Fokus Percakapan
5. Mendebat
6. Bicara Berlebihan
7. Menyepelekan
Penyebab Konseli Menutup Diri
1. Perasaan Takut
2. Perasaan Cemas
3. Ragu-ragu pada Konselor
4. Melindungi Diri
5. Tidak Tahu Apa yan Akan Terjadi
6. Bingung
Cara Menangani Konseli yang Menutup Diri
1. Pendekatan Umum
a. Bersahabat. Sahabat yagn baik adalah sahabat yang mau memahami dan mengerti sahabatnya, bahkan sahabat sejati adalah sahabat yang setia dalam suka dan duka dan mau memebela dan berjuang demi sahabatnya.
b. Empati. Empati terhadap konseli berarti konselor berupaya sekuatnya untuk berada dan berdiri di tempat di mana konseli berada. Sikap berempati akan menyakinkan konseli bahwa konselor tidak main-main dan setengah hati. Tetapi konselor akan bersungguh-sungguh mau mengerti, memahani dan akan menolong serta mendampinginya. Ia tidak akan ditinggal sendirian.
c. Melihat hal positif. Sebab dengan kacamata negatif, pandangan ke depan akan negatif. Sebaliknya, bila pikiran positif, pandangan akan positif juga.
d. Akseptasi. Konselor tidak menolok konseli dan menerima konseli apa adanya baik hal yang positif maupun negatif yang ada dalam dirinya.
Pandai membaca bahasa tubuh. Gerak-gerik tubuh selalu memberi arti, makna dan pesan tertentu. Ketrampilanmembaca perilaku nonverbal ini akan membantu konselor dapat menafsirkan dan memahami serta mengerti keadaan konseli.
e. Mencari alternatif.
f. Kreatif. Kreatif adalah memiliki kemampuan daya cipta. Mengembangkan hal yang ada menjadi sesuatu yang lebih baru lagi.
g. Fleksibel. Fleksibel adalah keadaan yang lentur, sehingga mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Tujuan utamanya adalah sekuat tenaga dapat merangkul dan mendorong konseli terbuka dan mau bekerja sama menemukan solusi menyelesaikan problem konseli.
h. Pantang menyerah. Konselor terus mencari cara-cara untuk membuka jalan bagi keterbukaan konseli. Semangat membara tidak pernah padam, karena Tuhan Yesus Kristus ada dalam hatinya.
Mengahadapi yang membisu:
a. Memahami Konseli.
“Saya memahami kesulitan Anda. Anda nampaknya sulit menceritakan masalah Anda kepada saya. Mungkin cukup bijak bila Anda tidak terburu-buru mengatakan hal tersebut kepada saya. Namun, bila Anda telah siap, katakan kepada saya, sehingga kita dapat mencari solusi yang baik dari masalah Anda.”
b. Membuat alternatif
“Kalau Anda tidak mau bicara, saya senang kalau Anda bersedia memberi jawaban dengan menggangukkan kepala atau menggelengkan kepala.”
c. Kreatif
Minta kepada Konselor Agung agar diberi ilham dan inspirasi bagaimana cara menolong konseli yang membisu. Sebab itu, dalam proses konseling, jangan lupa ada doa pribadi terlebih dahulu.
d. Tidak menekan
“Mungkin ada hal yang sukar anda sampaikan kepada saya. Tetapi, bila Anda telah merasa aman, nyaman, dan percaya kepada saya, barulah Anda menceritakan kepada saya. Kalau belum, memang sebaiknya anda jangan mengatakan pada saya. Anda setuju itu?
e. Lain waktu
“Anda nampaknya benar-benar belum mampu membicarakan masalah pribadi Anda dengan saya. Saya sangat memahami kesulitan Anda. Oleh karena itu, saya sangat senang kalau kita belum memebicarakannya sekarang, kalau Anda belum siap. Bagaimana kalau kita membicarakannya lain wakt, ketika Anda sudah benar-benar siap? Kalau Anda sudah siap, saya mohon anda mengatakan hal itu kepada saya. Anda setuju?
Menghadapi yang Menolak/Menghindar
a. Memahami Konseli
b. Buat janji
c. Cari pihak ketiga
d. Alihkan perhatian
Menangani Konseli yang Menutup Diri Menurut Kottler:
1. Tetap tenang
2. Lebih cerdik, krearif, dan luwes
3. Tetap sabar
4. Menghargai pendapat konseli yang bersikap menolak
5. Waspada dan hindari jebakan-jebakan untuk menghambat
6. Tetap memberi perhatian dan menerima tanpa menyetujui
7. Bantulah konseli melihat motif sikap tertutup
8. Yakinkan konseli bahwa sikap tertutup itu wajar sesuai kondisinya.
9. Laksanakan peran dan tangung jawab konselor dalam situasi itu.
KOMENTAR:
Dari pembahasan diatas yang dapat penulis aplikasikan menjadi tips untuk dapat membuka file tersembunyi adalah:
1. Bangun persahabatan terlebih dahalu. Ciptakan rasa aman, nyaman dan konseli tidak merasa terancam itu sangat penting untuk melakukan pendekatan dengan konseli dari perasaan-perasaan takut, cemas, ragu-ragu,dll.
2. Belajar untuk memahami konseli dengan cara berempati.
3. Belajar untuk memahami dan mendengarkan apa yang dikatakan baik dalam bahasa verbal maupun nonverbal dengan penuh perhatian.
4. Belajar untuk tidak menekan konseli dan memberikan komentar yang melemahkan konseli, menghargai setiap keputusan yang diambil oleh konseli.
5. Konselor harus kreatif, tidak terpaku pada model-model, pola-pola, tahap-tahap, langkah-langkah, dan prisip-prinsip yang sudah ada. Minta inspirasi dan ilham dari Konselor Agung.