SEMANGAT

SEMANGAT

Kamis, 21 Februari 2013

BIMBINGAN KONSELING-Inferiority

 Inferiority  (RENDAH DIRI)

I.    DATA BUKU:

Judul Buku        : Pastoral Konseling
Penulis            : Yakub B. Susabda
Penerbit        : Gandum Mas
Tempat  Terbit    : Malang
Tahun Terbit        : 1996 (Cetakan kelima)
Buku Yang Dibaca    : Hal 48-61
Membaca Tanggal    : 23 September 2012
II    INTI BUKU:
Inferiority adalah keadaan emosi yang dialami oleh orang karena berbagai sebab, yang mengakibatkan munculnya berbagai perasaan yang negatif seperti kegelisahan, insecure (tidak aman), inadequacy (tidak mampu), takut gagal, dsb.
 Inferiority ada dua yaitu inferiority complex dan inferiority feelings. Inferiority complex adalah suatu tingkah laku yang sebenarnya merupakan perwujudan dari alam ketidak-sadaran. Sedangkan inferiority feelings yaitu ada alasan-alasan rationil kenapa seorang merasa inferior.
Tanda-tanda inferiority yang nyata misalnya: keringat dingin, gemetaran, kata-kata yang terputus-putus , tidak berani bicara, dsb. Tanda-tanda inferiority yang tersembunyi, misalnya: selalu bepakaian bagus (tanpa itu ia merasa kurang diterima), selalu memberikan sanggahan-sanggahan dalam pembicaraan (takut dianggap tidak tahu apa-apa), mencari kesibukan di tengah pertemuan-pertemuan (untuk mendapatkan persaan aman dan dibutuhkan), dsb.
Penyebab inferiority:
1.    Realita inferior non primer (kenyataan inferior dalam hal-hal yang tidak primer)
2.    Realita inferior primer
3.    Poor self-image (pengenalan yang buruk terhadap dirinya sendiri)
    Sikap lingkungan yang cenderungselalu mengecilkan dirinya.
    Sikap lingkungan yang menuntut lebih dari kemampuannya.
4.    Kegagalan berkali-kali
5.    Sebab-sebab lain:
•    Standar dari kelompok mayoritas
•    Over-protection (perlindungan yang berlebihan)


Aspek-aspek yang unik dari inferiority:
Kadang-kadang inferiority menggejala dalam tingkah laku yang merugikan seperti iri hati, kemarahan, kebencian, persaingan, dsb; kadang-kadang menggejala dalam tingkah laku yang positif seperti misalnya, kesabaran mendengar, kerelaan bekerja, dsb. Tetapi tidak jarang orang justru menikmati dan memanfaatkan inferioritynya.

Cara mengatasi inferiority:
a.    Melawannya dengan cara yang tidak sehat;
     Kadang-kadang orang mencoba mengatasi inferioritynya dengan menyembunyikan perasaan insecuritynya dan terus menerus mencoba mematikan perasaan bahwa dirinya inferior.
     Kadang-kadang orang memilih lari ke dalam psyhosomatic reaction, dimana inferioritynya mengambil bentuk sakit perut, astma, sakit kepala, dsb.
     Kadang-kadang orang mencoba mengatasinya dengan menceritakan inferioritynya secara terus-menerus.
     Kadang-kadang orang mencoba mengatasinya dengan mengembangkan ‘critical spirit’
b.    Melawan dengan cara yang sehat.
    Mengenali dan menghargai anugerah/ talenta yang Allah berikan. Inferiority muncul oleh karena:
    Orang tidak mengenali akan anugerah dan kelebihan yang Allah berikan.
    Orang tidak menghargai anugerah/talenta yan Allah berikan.
    Mengubah self-concept yang buruk. Orang merasa inferiority disebabkan oleh karena ia memunyai self-concept yang buruk atau yang merugikan dirinya.
    Berjuang mengatasi sumber inferiority. Inferiority seringkali bisa diatasi jikalau orang yang bersangkutan benar-benar berjuang dan berhasil mengatasi sumbernya.
    Memerbaiki biblical-concept yang salah. Inferiority dan humbleness adalah dua hal yang berbeda. Inferiority adlah sikap emosi yang negatif yang menghasilkan tingkah laku yang merugikan. Sedangkan humbleness, adalah sikap emosi yang positif yang lahir dari pengakuan yang tulus bahwa segala sesuatu yang kita miliki diberikan sebagai anugerah Allah.
Yang diperlukan saat konseling:
1.    Understanding bahwa hampir setiap persoalan inferiority mengambil bentuk dalam persoalan-persoalan.
2.    Tanda-tanda dari inferiority tidak selalu menunjuk bahwa masalah konsele hanya masalah inferiority.
3.    Dinamika tingkah laku manusia begitu kompleks, kadang-kadang inferiority sudah menjadi unconscious phenomenon yang menggejala dalam macam-macam tingkah laku yang merugikan yang masing-masing seolah-olah merupakan masalah yang berdiri sendiri.
4.    Mendorong orang yang inferior untuk mengambil tindakan konkrit.




III     KOMENTAR:
Ada peribahasa yang mengatakan bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Kegagalan dapat menjadi guru yang dapat menolong kita menjadi pribadi yang lebih baik dan bjaksana. Akan tetapi, i yang terjadi kadangkala adalah sebaliknya, kegagalan menjadi suatu yang sangat menakutkan. Kerena dengan adanya kegagalan membuat seseorang tersebut merasa rendah diri. Perasaan rendah diri dapat menghalangi pertumbuhan dan tingkah laku yang kita kerjakan.
Inferiority dapat  dialami oleh semua orang dan dalam bidang apa pun. Jika kita melihat lebih luas lagi tentang bangsa Indonesia. Mungkin kita beranggapan kita adalah bangsa yang inferior dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang lain. Seperti Amerika, Cina, Jepang, Korea Selatan, dll yang menjadi bangsa superior. Dengan keberadaan bangsa Indonesia sebenarnya kita tidak perlu merasa inferior dibandingkan bangsa lain sebab bangsa Indonesiaa  adalah bangsa yang kaya akan SDA, budaya, dan kehidupan sosial yang beragam unik dan luar biasa. Pertanyaannya apa yang menyebabkan Indonesia merasa inferior bahkan kita juga merasa inferior  menjadi bagian dari bangsa Indonesia?
Belajar dari materi di atas untuk mengatasi masalah inferior, tentunya kita mengatasinya dengan menggunakan cara yang sehat. Mari sama-sama berjuang dan mengatasi sumbernya dan tentunya selalu sertakan Tuhan untuk menyelesaiakannya.

    



Tidak ada komentar:

Posting Komentar